Rabu, 17 Mei 2017

Vidio Mujizat Nabi Ibrahim AS

Doa Nabi Ibrahim Ketika Dibakar Api Tidak Mempan

Salah satu mukjizat Nabi Ibrahim yaitu tidak mempan ketika dibakar api yang sangat panas. Nabi Ibrahim dibakar dalam api yang menyala-nyala setelah menghancurkan berhala-berhala yang disembah oleh ayah dan kaumnya.

Di dalam Kitab Suci Al-Quran diterangkan; sebelum membakar Ibrahim, Raja Namrudz memerintahkan kaumnya untuk mendirikan sebuah bangunan yang tinggi yang bertujuan agar semua rakyatnya mengetahui tentang kejadian pembakaran ini.
قَالُوا ابْنُوا لَهُ بُنْيَانًا فَأَلْقُوهُ فِي الْجَحِيمِ
“Mereka berkata, “Dirikanlah sebuah bangunan untuk (membakar Ibrahim), lalu lemparkanlah dia kedalam api yang menyala-nyala itu.” (QS. As-Shaffat : 97).

Doa Nabi Ibrahim Saat Dibakar Agar Tidak Mempan
Ilustrasi: Api Menyala-nyala

Maka, setelah semuanya lengkap, mereka pun kemudian memasukan Ibrahim kedalam api yang panas. Semua orang mengira Ibrahim akan terbakar dan hangus didalamnya. Akan tetapi Allah menjadikan api itu dingin dan tidak bisa membakar Nabi Ibrahim a.s.

Dilansir dari Kumpulan Doa Mustajab, bahwa ketika Nabi Ibrahim diletakkan di atas tungku api, Jibril bertanya kepada Nabi Ibrahim, “Apakah engkau memerlukan sesuatu pertolongan dariku?" Nabi Ibrahim lantas menjawab, “Aku tidak memerlukan apa-apa pertolongan darimu.. Aku hanya memerlukan pertolongan dari Allah”

Kemudian Nabi Ibrahim menyebut kalimat atau berdoa. Dan berikut adalah kalimat doa Nabi Ibrahim ketika dibakar :

حَسْبُنَا اللَّهُ وَنِعْمَ الْوَكِيلُ
Artinya :
"Cukuplah Allah menjadi penolong Kami dan Allah adalah Sebaik-baik Pelindung"


Dan dengan izin serta pertolongan Allah SWT, api yang sangat besar dan panas yang sedang membakar tubuh Ibrahim itu tidak mampu membinasakannya, karena api tersebut menjadi dingin dan menyelamatkan Nabi Ibrahim.

Allah SWT berfirman:
قُلْنَا يَا نَارُ كُونِي بَرْدًا وَسَلامًا عَلَى إِبْرَاهِيمَ
Artinya :
Kami berfirman: "Hai api menjadi dinginlah, dan menjadi keselamatanlah bagi Ibrahim". (QS. Al Anbiyaa' : 69)

Doa "HASBUNALLAH WA NI'MAL WAKIIL" juga merupakan salah satu doa atau kalimat yang diucapkan oleh Nabi Muhammad SAW ketika perang badar, dan kemudian Allah SWT memberikan kemenangan kepada Baginda Rasul.

Firman Allah SWT:
الَّذِينَ قَالَ لَهُمُ النَّاسُ إِنَّ النَّاسَ قَدْ جَمَعُوا لَكُمْ فَاخْشَوْهُمْ فَزَادَهُمْ إِيمَانًا وَقَالُوا حَسْبُنَا اللَّهُ وَنِعْمَ الْوَكِيلُ
Artinya :
(Yaitu) orang-orang (yang menta'ati Allah dan Rasul) yang kepada mereka ada orang-orang yang mengatakan: "Sesungguhnya manusia telah mengumpulkan pasukan untuk menyerang kamu, karena itu takutlah kepada mereka", maka perkataan itu menambah keimanan mereka dan mereka menjawab: "Cukuplah Allah menjadi Penolong kami dan Allah adalah sebaik-baik Pelindung". (QS Ali 'Imran:173).

Dalam sebuah hadits yang diriwayatkan oleh Bukhari dari ibn abas, yang artinya :
”Hasbunallah wa ni’mal wakiil (Cukuplah Allah bagi kami, dan ia adalah sebaik-baik tempat menyerahkan diri), di ucapkan oleh Ibrahim ketika ia di lemparkan ke dalam api, dan juga oleh muhammad saw. Sewaktu ia mendengar berita : Orang-orang itu sungguh telah menghimpuh tentara buat memerangimu” (HR . Bukhari)

Itulah Kalimat Doa Nabi Ibrahim ketika Dibakar yang juga diamalkan oleh Baginda Nabi Muhammad SAW ketika Perang Badar, yakni "HASBUNALLAH WA NI'MAL WAKIIL (Cukuplah Allah menjadi Penolong kami dan Allah adalah sebaik-baik Pelindung)" . dan dengan kalimat tersebut, Allah SWT menyelamatkan Nabi Ibrahim dari Panasnya Api serta memberi kemenangan bagi Nabi Muhammad ketika Perang Badar.

Maka dari itu, ketika kita sedang dalam kesusahan, kepayahan marilah kita dekatkan diri kepada Allah SWT dengan amalan-amalan baik, puasa, dzikir, sholat, membaca Al-Qur'an serta berdoa. Kalimat "HASBUNALLAH WA NI'MAL WAKIIL" bagus kita jadikan sebagai amalan, kerana ia mampu menenangkan jiwa dan menyejukkan hati. 

Minggu, 07 Mei 2017

Mukjizat NAbi Ismail AS

Mukjizat Nabi Ismail AS
Nabi Ibrahim yang hijrah meninggalkan Mesir bersama isterinya Sarah dan Hajar, Palestina. Ia juga membawa serta semua binatang ternaknya dan harta miliknya yang telah diperolehnya sebagai hasil usaha niaganya di Mesir.
Setelah berminggu-minggu berada dalam perjalanan yang melelahkan, tibalah Nabi Ibrahim bersama Ismail dan ibunya di Makkah. Makkah merupakan tempat di mana Masjidil Haram sekarang berada. Di sanalah Nabi Ibrahim mengakhiri perjalanannya dan disitulah ia meninggalkan Hajar bersama puteranya yang dengan hanya dibekali dengan makanan dan minuman seadanya sedangkan keadaan sekitarnya tiada tumbuh-tumbuhan, tiada air mengalir, yang terlihat hanyalah batu dan pasir kering. Alangkah sedih dan cemasnya Hajar ketika akan ditinggalkan oleh Nabi Ibrahim seorang diri bersama dengan anaknya yang masih bayi di tempat yang sunyi senyap dari segala-galanya kecuali batu gunung dan pasir.
Nabi Ibrahim mendengar keluh kesah Hajar, ia merasa tidak tega meninggalkannya seorang diri di tempat itu bersama puteranya yang sangat disayanginya. Akan tetapi, ia sadar bahwa apa yang dilakukannya itu adalah kehendak Allah Ta'ala. Ia yakin bahwa Allah akan melindungi Ismail dan ibunya dalam tempat pengasingan itu dari segala kesukaran dan penderitaan. Ia berkata kepada Hajar: "Bertawakallah kepada Allah yang telah menentukan kehendak-Nya, percayalah kepada kekuasaan-Nya dan rahmat-Nya. Dialah yang memerintah aku membawa kamu kesini dan Dialah yang akan melindungimu dan menyertaimu di tempat yang sunyi ini. Sungguh kalau bukan perintah dan wahyunya, tidak sesekali aku meninggalkan kamu dirini seorang diri bersama puteraku yang sangat kucintai ini. Percayalah wahai Hajar bahwa Allah Yang Maha Kuasa tidak akan mendlantarkan kamu berdua tanpa perlindungan-Nya. Rahmat dan barakah-Nya akan tetap turun diatas kamu untuk selamanya, insya-Allah".
Sebagai manusia, Nabi Ibrahim pun tidak dapat menahan air matanya ketika ia turun dari dataran tinggi meninggalkan Makkah menuju kembali ke Palestina di mana isterinya. Sarah dengan puteranya yang kedua ishak sedang menanti. Selama diperjalanan, ia tidak henti-hentinya memohon kepada Allah agar selalu memberikan perlindungan, rahmat, dan barakah serta rezeki bagi putera dan ibunya yang ditinggalkan di tempat terasing itu. Ia berkata dalam doanya: "Wahai Tuhanku! Aku telah tempatkan puteraku dan anak-anak keturunannya didekat rumah-Mu (Baitullahil Haram) dilembah yang sunyi dari tanaman dan manusia agar mereka mendirikan shalat dan beribadat kepada-Mu. Jadikanlah hati sebagian manusia cenderung kepada mereka dan berilah mereka rezeki dari buah-buahan yang lezat, mudah-mudahan mereka bersyukur kepada-Mu."
Siti Hajar dan puteranya akhirnya tinggal ditempat yang terpencil dan sunyi itu. Ia harus menerima nasib yang telah ditakdirkan oleh Allah atas dirinya dengan kesabaran dan keyakinan penuh akan perlindungan-Nya. Bekal makanan dan minuman yang dibawanya dalam perjalanan pada akhirnya habis selama beberapa hari sepeninggalan Nabi Ibrahim. Sejak itu, mulailah terasa berat beban hidup yang harus ditanggungnya sendiri tanpa bantuan suaminya. Ia masih harus menyusui anaknya, namun air susunya makin mengering disebabkan kekurangan makanan. Anak yang tidak dapat minuman akhirnya menangis tidak henti-hentinya.
Pada saat itu, Siti Hajar menjadi panik, bingung dan cemas mendengar tangisan anaknya hari itu. Ia menoleh ke kanan dan ke kiri serta lari ke sana ke sini mencari sesuap makanan atau seteguk air yang dapat meredakan tangisan anaknya, namun sia-sialah usahanya. Ia berlari menuju bukit Shafa dan Marwah untuk mendapatkan sesuatu yang dapat menolongnya, tetapi hanya batu dan pasir yang ada. Kemudian dari bukit Shafa ia melihat bayangan air yang mengalir di atas bukit Marwah dan larilah ia ketempat itu namun ternyata bahwa yang disangkanya air adalah fatamorgana (bayangan) belaka dan kembalilah ke bukit Shafa karena mendengar seakan-akan ada suara yang memanggilnya tetapi tidak terlihat siapapun.
Siti Hajar berlari sampai tujuh kali antara bukit Shafa dan Marwah yang pada akhirnya ia duduk termenung merasa hampir berputus asa. Saat Siti Hajar termenung, muncullah air yang jernih dari bekas hentakan kaki bayi Ismail. Mata air ini disebut mata air Zamzam. Siti Hajar bersyukur kepada Allah atas adanya mata air tersebut, yang dengan rahmatnya telah membantunya dalam kesulitan air.
Nabi Ibrahim dari masa ke masa pergi ke Mekkah untuk mengunjungi dan menjenguk Ismail. Hatinya yang selalu resah bila mengenangkan keadaan puteranya bersama ibunya yang ditinggalkan ditempat yang tandus, jauh dari masyarakat kota dan pergaulan umum. Sewaktu Nabi Ismail mencapai usia remajanya, Nabi Ibrahim AS mendapatkan mimpi bahwa ia harus menyembelih Ismail puteranya. Nabi Ibrahim tidak tega melakukannya, dan merupakan ujian yang sangat berat yang ia hadapi. Sebagai seorang ayah yang dikaruniai seorang putera yang sejak puluhan tahun diharap-harapkan dan didambakan, tiba-tiba harus dijadikan qurban dan harus direnggut nyawa oleh tangannya.
Namun, ia sebagai seorang Nabi, pesuruh Allah dan pembawa agama yang seharusnya menjadi contoh teladan bagi para pengikutnya dalam bertaat kepada Allah, menjalankan segala perintah-Nya dan menempatkan cintanya kepada Allah di atas cintanya kepada anak, istri, harta benda dan lain-lain. Ia harus melaksanakan perintah Allah yang diwahyukan melalui mimpinya. Sungguh amat berat ujian yang dihadapi oleh Nabi Ibrahim, namun ia harus melaksanakan perintah Allah. Ia tetap berniat akan menyembelih Nabi Ismail sebagai qurban sesuai dengan perintah Allah yang telah diterimanya. Dengan berat hati, Nabi Ibrahim menyampaikan mimpinya kepada puteranya tentang apa yang Allah perintahkan. Nabi Ismail sebagai anak yang soleh yang sangat taat kepada Allah dan bakti kepada orang tuanya, ketika diberitahu oleh ayahnya maksud kedatangannya kali ini tanpa ragu-ragu mengikhlaskannya apabila itu perintah Allah
Saat penyembelihan telah tiba, diikatlah kedua tangan dan kaki Ismail, lalu diambillah pedang tajam yang sudah tersedia dan sambil memegang pedang ditangannya. Kedua mata Nabi Ibrahim yang tergenang air berpindah memandang dari wajah puteranya ke pedang yang mengilap ditangannya. Saat itu hati beliau menjadi tempat pertarungan antara perasaan seorang ayah dan kewajiban seorang rasul. Pada akhirnya dia memejamkan matanya, pedang diletakkan dan hendak dihunuskan pada leher Nabi Ismail. Seketika itu, Allah Ta'ala mengganti Nabi Ismail dengan seekor domba yang besar. Kejadian tersebut merupakan suatu mukjizat dari Allah yang menegaskan bahwa perintah pengorbanan Ismail itu hanya suatu ujian bagi Nabi Ibrahim dan Nabi Ismail sanpai sejauh mana cinta dan taat mereka kepada Allah. Ternyata, keduanya telah lulus dalam ujian yang sangat berat itu.

Mukjizat Nabi Lut AS

Mukjizat Nabi Luth AS
Kisah Nabi Luth AS dalam. Al-Qur'an terdapat dalam surah "Al-Anbiyaa" ayat 74 dan 75, surah "Asy-Syu'ara" ayat 160 sampai ayat 175, surah "Hud" ayat 77 sampai ayat 83, surah "Al-Qamar" ayat 33 sampai 39 dan surah "At-Tahrim" ayat 10.
Nabi Luth AS adalah anak saudara dari Nabi Ibrahim AS. Ayahnya yang bernama Hasan bin Tareh adalah saudara sekandung dari Nabi Ibrahim AS. Ia beriman kepada bapa saudaranya Nabi Ibrahim AS mendampinginya dalam semua perjalanan dan sewaktu mereka berada di Mesir berusaha bersama dalam bidang peternakan yang berhasil dengan baik, binatang ternaknya berkembang biak sehingga dalam waktu yang singkat jumlah yang sudah berlipat ganda itu tidak dapat ditampung dalam tempat yang disediakan. Akhirnya harta Ibrahim-Luth dipecah dan binatang ternak serta harta milik perusahaan mereka dibagi dan berpisahlah Luth dengan Ibrahim. Luth pindah ke Yordania dan bermukim di sebuah tempat bernama Sadum.
Masyarakat Sadum adalah masyarakat yang rendah tingkat moralnya, rusak mentalnya, tidak mempunyai pegangan agama atau nilai kemanusiaan yang beradab. Kemaksiatan dan kemungkaran merajalela dalam pergaulan hidup mereka. Pencurian dan perampasan harta merupakan kejadian sehari-hari dimana yang kuat menjadi kuasa sedang yang lemah menjadi korban penindasan dan perlakuan sewenang-wenang. Maksiat yang paling menonjol yang menjadi ciri khas hidup mereka adalah perbuatan menyukai sesama lelaki atau homoseks dikalangan lelakinya dan lesbian dikalangan wanitanya. Kedua jenis kemungkaran ini begitu merajalela didalam masyarakat sehingga merupakan suatu kebudayaan bagi Sadum.
Seorang pendatang yang masuk ke Sadum tidak akan selamat dari gangguan mereka. Jika ia membawa barang-barang yang berharga maka dirampaslah barang-barangnya, jia ia melawan atau menolak menyerahkannya maka nyawanya tidak akan selamat. Akan tetapi, jika pendatang itu seorang lelaki bermuka tampan dan berparas elok maka ia akan menjadi rebutan diantara mereka dan akan menjadi korban perbuatan keji lelakinya dan sebaliknya jika si pendatang itu seorang perempuan muda maka ia menjadi mangsa bagi pihak wanitanya pula.
Kepada masyarakat yang sudah sedemikian rupa keruntuhan moralnya dan sedemikian parah penyakit sosialnya, diutuslah Nabi Luth sebagai pesuruh dan Rasul-Nya untuk mengangkat mereka dari lembah kenistaan, kejahilan, dan kesesatan serta membawa mereka alam yang bersih, bermoral dan berakhlak mulia. Nabi Luth AS mengajak mereka beriman dan beribadah kepada Allah Ta'ala meninggalkan kebiasaan mungkar menjauhkan diri dari perbuatan maksiat dan kejahatan yang diilhamkan oleh iblis dan syaitan. Ia memberi penerang kepada mereka bahwa Allah telah menciptakan mereka dan alam sekitar mereka tidak meridhai amal perbuatan mereka yang mendekati sifat dan tabiat kebinatangan dan tidak sesuai dengan nilai-nilai kemanusiaan dan bahwa Allah akan memberi ganjaran setimpal dengan amal kebajikan mereka. Orang yang berbuat baik dan beramal soleh akan diganjar dengan surga diakhirat, sedang yang melakukan perbuatan munkar akan dibalaskannya dengan memasukkannya kedalam neraka Jahanam.
Nabi Luth AS berseru kepada mereka agar meninggalkan adat kebiasaan yaitu melakukan perbuatan homoseks dan lesbian karena perbuatan itu bertentangan dengan fitrah dan hati nurani manusia serta menyalahi hikmah yang terkandung didalam penciptaan manusia menjadi dua jenis, yaitu lelaki dan wanita. Juga kepada mereka diberi nasihat dan dianjurkan supaya menghormati hak dan kepemilikan masing-masing dengan meninggalkan perbuatan perampasan, perompakan serta pencurian yang selalu mereka lakukan diantara sesama mereka dan terutama kepada pengunjung yang datang ke Sadum. Diterangkan bahwa perbuatan-perbuatan itu akan merugikan mereka sendiri, karena akan menimbulkan kekacauan dan ketidakamanan didalam negeri sehingga masing-masing dari mereka tidak merasa ama dan tenteram dalam hidupnya.
Nabi Luth AS melaksanakan dakwahnya sesuai dengan tugas risalahnya. Ia tidak henti-henti menggunakan setiap kesempatan dan dalam tiap pertemuan dengan kaumnya secara berkelompok atau secara berseorangan mengajak agar mereka beriman dan percaya kepada Allah Ta'ala, menyembah-Nya, melakukan amal soleh dan meninggalkan perbuatan maksiat dan mungkar. Akan tetapi, keruntuhan moral dan kerurakan akhlak sudah berakar didalam pergaulan hidup mereka dan pengaruh hawa nafsu dan penyesatan syaitan sudah begitu kuat menguasai tindak-tanduk mereka, maka dakwah dan ajakan Nabi Luth AS yang dilaksanakan dengan kesabaran dan ketekunan tidak mendapat tanah yang subur didalam hati dan pikiran mereka dan berlalu laksana suasana teriakan ditengah-tengah padang pasir. Telinga-telinga mereka sudah menjadi pekak bagi ajaran-ajaran Nabi Luth AS sedang hati dan pikiran mereka sudah tersumbat rapat dengan ajaran-ajaran syaitan dan iblis
Akhirnya kaum Luth merasa dan kesal hati mendengar dakwah dan nasihat-nasihat Nabi Luth yang tidak putus-putus itu dan minta agar ia menghentikan aksi dakwahnya atau menghadapi pengusir dirinya dari sadum bersama semua keluarganya. Dari pihak Nabi Luth pun sudah tidak ada harapan lagi masyarakat Sadum dapat terangkat dari lembah kesesatan dan keruntukan moral mereka dan bahwa meneruskan dakwah kepada mereka yang sudah buta-tuli hati dan pikiran serta memsia-siakan masa.
Nabi Luth AS berdoa dan dikabulkan doanya oleh Allah Ta'ala. Dikirimkanlah kepada tiga orang malaikat menyamar sebagai manusia biasa. Mereka adalah malaikat yang bertamu kepada Nabi Ibrahim dengan membawa berita gembira atas kelahiran Nabi Ishaq, dan memberitahu kepada mereka bahwa dia adalah utusan Allah dengan tugas menurunkan azab kepada kaum Luth penduduk kota Sadum. Dalam kesempatan pertemuan mana Nabi Ibrahim telah memohon agar penurunan azab keatas kaum Sadum ditunda, kalau-kalau mereka kembali sadar mendengarkan dan mengikuti ajakan Luth serta bertaubat dari segala maksiat dan perbuatan munkar. Juga dalam pertemuan itu Nabi Ibrahim mohon agar anak saudaranya, Luth diselamatkan dari azab yang akan diturunkan ke atas kaum Sadum permintaan mana oleh para malaikat itu diterima dan dijamin bahwa Luth dan keluarganya tidak akan terkena azab.
Para malaikat atau lelaki remaja itu bertanya kepada si gadis agar mereka diterima bertamu ke rumah mereka. Si gadis tidak berani memberi keputusan sebelum ia berunding terlebih dahulu dengan keluarganya. Kemudian, ditinggalkanlah para lelaki remaja itu oleh si gadis seraya ia pulang ke rumah cepat-cepat untuk memberitahu Nabi Luth, ayahnya. Akhirnya, Nabi Luth bahwa ia akan menerima mereka rebagai tamu di rumahnya apapun yang akan terjadi sebagai akibat keputusannya ia pasrahkan kepada Allah yang akan melindunginya. Lalu pergilah ia sendiri menjemput tamu-tamu yang sedang menanti dipinggir kota dan diajaklah mereka bersama-sama ke rumah pada saat kota Sadum sudah diliputi kegelapan dan manusianya sudah nyenyak tidur di rumah masing-masing.
Nabi Luth AS berpesan kepada isterinya dan kedua puterinya agar merahasiakan kedatangan tamu-tamunya. Nabi berpesan agar jangan sampai terdengar dan diketahui oleh kaumnya. Akan tetapi, isteri Nabi Luth AS yang memang sehaluan dan sependirian dengan penduduk Sadum telah membocorkan berita kedatangan para tamu dan terdengarlah oleh pemuka-pemuka mereka bahwa Luth ada tetamu terdiri daripada remaja-remaja yang tampan parasnya dan memiliki tubuh yang sangat menarik bagi para penggemar homoseks.
Terjadilah apa yang dikhawatirkan oleh Nabi Luth AS. Begitu tersiar dari mulut ke mulut berita kedatangan tamu-tamu remaja di rumah Nabi Luth AS, berdatanganlah mereka kerumahnya untuk melihat para tamunya dan memuaskan nafsunya. Nabi Luth AS tidak membuka pintu bagi mereka dan berseru agar mereka kembali ke rumah masing-masing dan jangan mengganggu tamu-tamu yang datangnya dari jauh yang sepatutnya dihormati dan dimuliakan.
Seruan dan nasihat Nabi Luth AS tidak dihiraukan dan dipedulikan, mereka bahkan mendesak akan mendobrak pintu rumahnya dengan paksa dan kekerasan kalau pintu tidak di buka dengan sukarela. Merasa bahwa dirinya sudah tidak berdaya untuk menahan arus orang-orang penyerbu dari kaumnya itu yang akan memaksakan kehendaknya dengan kekerasan berkatalah Nabi Luth AS secara terus terang kepada para tamunya: "Sesungguhnya aku tidak berdaya lagi menahan orang-orang itu menyerbu ke dalam. Aku tidak memiliki senjata dan kekuatan fisik yang dapat menolak kekerasan mereka, tidak pula mempunyai keluarga atau sanak saudara yang disegani mereka yang dapat aku mintai pertolongannya, maka aku merasa sangat kecewa, bahwa sebagai tuan rumah aku tidak dapat menghalaukan gangguan terhadap tamu-tamuku di rumahku sendiri."
Begitu Nabi Luth AS selesai mengucapkan keluh-kesahnya para tamu segera mengenalkan diri kepadanya dan memberi identitasnya, bahwa mereka adalah malaikat-malaikat yang menyamar sebagai manusia yang bertamu kepadanya dan bahwa mereka datang ke Sadum untuk melaksanakan tugas menurunkan azab dan siksa atas rakyatnya yang membangkang dan enggan membersihkan masyarakatnya dari segala kemungkaran dan kemaksiatan yang keji dan kotor. Kepada Nabi Luth AS para malaikat untuk menyarankan agar pintu rumahnya dibuka lebar-lebar untuk memberikan kesempatan bagi orang-orang yang haus seksual itu masuk. Namun, marangnya apabila pintu dibuka dan menginjakkan kaki untuk masuk, tiba-tiba gelaplah pandangan mereka dan tidak dapat melihat sesuatu. Mereka mengusap-usap mata, tetapi ternyata sudah menjadi buta.
Nabi Luth AS keluar dari rumahnya sehabis tengah malam, bersama keluarganya terdiri dari seorang isteri dan dua puterinya berjalan cepat menuju keluar kota, tidak menoleh kekanan maupun kekiri sesuai dengan petunjuk para malaikat yang menjadi tamunya. Akan tetapi, ternyata isteri Nabi-lah yang menjadi musuh dalam selimut bagi Nabi Luth tidak tega meninggalkan kaumnya. Ia berada dibelakang rombongan Nabi Luth berjalan perlahan-lahan tidak secepat langkah suaminya yang tidak henti-henti menoleh kebelakang karena ingin mengetahui apa yang akan menimpa atas kaumnya, seakan-akan meragukan kebenaran ancaman para malaikat yang telah didengarnya sendiri.
Nabi Luth beserta kedua puterinya akhirnya melewati batas kota Sadum. Sewaktu fajar menyingsing, bergetarlah bumi dengan dahsyatnya didaerah sadum, tidak terkecuali isteri Nabi Luth yang munafik itu. Getaran itu berupa gempa bumi yang kuat dan hebat disertai angin yang kencang dan hujan batu yang menghancurkan kota Sadum beserta semua penghuninya.

Mukjizat Nabi Saleh AS

Mukjizat Nabi Saleh AS
Kisah Nabi Saleh AS diceritakan dalam surah Al-A'raaf, ayat 73 hingga 79, surah "Hud" ayat 61 hingga ayat 68, dan surah Al-Qamar ayat 23 hingga ayat 32. Berikut ini salah satu ayatnya, yaitu surah Al-A'raaf ayat 73:
Artinya:"Dan kepada kaum samud (Kami utus) saudara mereka Saleh. Dia berkata, "Wahai kaumku! Sembahlah Allah! Tidak ada Tuhan (sembahan) bagimu selain Dia. Sesungguhnya telah datang kepadaku bukti yang nyata dari Tuhanmu. Ini (seekor) unta betina dari Allah sebagai tanda untukmu. Biarlah ia makan di bumi Allah, janganlah disakiti, nanti akibatnya kamu akan mendapatkan siksaan yang pedih."
Kaum Tsamud tidak mengenal Tuhan. Tuhan mereka adalah berhala-berhala yang mereka sembah dan puja, kepadanya mereka berkurban. Mereka pun minta perlindungan dari segala bala dan musibah dan mengharakan kebaikan serta kebahagiaan dari berhala-berhala tersebut. Mereka tidak dapat melihat dan memikirkan lebih jauh. Allah Ta'ala tidak akan menurunkan azab dan siksaan kepada suatu umat sebelum mereka diperingatkan dan diberi petunjuk oleh-Nya dengan perantara seorang yang dipilih untuk menjadi utusan dan rasul-Nya. Dipilihlah oleh Allah Ta'ala seorang nabi bernama Saleh. Nabi Saleh AS adalah seorang yang telah dipilih-Nya dari suku Tsamud sendiri. Ia berasal dari keluarga yang terpandang dan dihormati oleh kaumnya. Nabi Saleh AS dikenal tangkas, cerdik, pandai, rendah hati, dan ramah-tamah dalam pergaulan sehari-hari.
Nabi Saleh AS diutus oleh Allah Ta'ala untuk memperingatkan kepada kaum Tsamud agar berbuat kebaikan dan kebajikan. Ia mengharapkan kaumnya agar mereka segera meninggalkan persembahan kepada berhala-berhala dan beriman kepada Allah Yang Maha Esa serta bertobat dan memohon ampun kepada-Nya.
Mendengar seruan dakwahnya Nabi Saleh AS tadi, kaum Tsamud terkejut seketika. Mereka menolah ajakan Nabi Saleh AS itu. Menurut mereka, Nabi Saleh AS merupakan harapan untuk memimpin mereka dengan kepandaian berpikirnya. Akan tetapi, segala harapan itu menjadi meleset dan hilangnya kepercayaan mereka kepada Nabi Saleh AS akibat bertentangan dan menyalahi adat-istiadat dan tata cara hidup yang sudah mereka jalani. Mereka tidak mempercayai perkataan Nabi Saleh AS, bahkan meragukan kenabiannya. Mereka tetap terus bertahan dengan pendiriannya dan tidak akan mendurhakai nenek moyang kami dengan meninggalkan persembahan mereka.
Nabi Saleh AS memperingatkan mereka agar mengikuti ajakannya untuk beriman kepada Allah Ta'ala yang telah mengaruniakan rezeki dan menyejahterakan kaum Tsamud. Kemudian, Nabi Saleh AS pun menceritakan kepada mereka kisah kaum-kaum yang mendapat siksa dan azab dari Allah Ta'ala karenamenentang rasul-Nya dan mendustakan risalah-Nya. Begitu pun terhadap kaum Tsamud. Jika mereka tidak mengikuti ajaran Allah Ta'ala maka azab Allah akan datang.
Sekelompok kecil dari kaum Tsamud yang sebagian besarnya terdiri dari orang-orang miskin menerima dakwah Nabi Saleh AS dan beriman kepada Allah Ta'ala. Akan tetapi, bagi golongan orang-orang kaya dan berkedudukan tetap berkeras diri menolak ajakan Nabi Saleh AS dan mengingkari kenabiannya. Mereka menganggap Nabi Saleh AS dan para pengikutnya telah menjadi gila. Akal dan pikiranmu sudah kacau sehingga tidak sadar telah mengeluarkan kata-kata ucapan yang tidak masuk akal. Kaum Tsamud menganggap, kata-kata Nabi Saleh AS tersebut memiliki keinginan untuk mengejar kedudukan di kalanggan kaumnya. Mereka dengan tegas mengatakan tidak akan mengikuti jalan yang diserukan oleh Nabi Saleh AS. Mereka tetap akan mengikuti adat yang diwarisi oleh nenek moyangnya dahulu.
Segala upaya untuk berdakwah dilakukan oleh Nabi Saleh AS sehingga semakin banyak pula orang-orang dari kaum Tsamud yang mengikuti ajarannya. Akan tetapi, banyak pula rintangan atau kendala yang dihadapi oleh Nabi Saleh AS. Hal ini karena banyaknya para pemimpin dan pemuka kaum Tsamud yang berusaha membendung arus dakwahnya. Untuk membuktikan kebenaran akan kenabiannya, Nabi Saleh AS membuktikan dengan mukjizat dari Allah Ta'ala dalam bentuk benda atau kejadian luar biasa yang berada diluar kekuasaan manusia.
Sesuai dengan permintaan pemuka-pemuka kaum Tsamud, Nabi Saleh AS berdoa memohon kepada Allah Ta'ala agar memberinya suatu mukjizat untuk membuktikan kebenaran risalahnya dan sekaligus mematahkan perlawanan dan tantangan kaumnya. Ia memohon kepada Allah Ta'ala dengan kekuasaan-Nya untuk menciptakan seekor unta betina yang dikeluarkan dari sebuah batu karang besar yang terdapat disisi sebuah bukit yang mereka tunjuk. Akhirnya, atas seizin Allah Ta'ala yang maha kuasa lagi maha pencipta terbelahlah batu karang yang ditunjuk itu dan keluarlah seekor unta betina. Nabi Saleh AS pun memperingatkan kaum Tsamud agar tidak mengganggu unta itu karena Allah Ta'ala akan menurunkan azab-Nya.
Kemudian unta yang keluar dari batu itu, ke ladang untuk memakan rumput tanpa mendapat gangguan. Ketika giliran minumnya tiba pergilah unta itu ke sebuah perigi yang diberi nama perigi unta dan minumlah sepuasnya. Ketika giliran unta Nabi Saleh AS itu datang minum, ternyata tiada seekor binatang lain berani menghampirinya. Hal ini mana menimbulkan rasa tidak senang pada pemilik-pemilik binatang lainnya. Makin hari, makin merasakan bahwa adanya unta Nabi Saleh AS di tengah-tengah mereka itu merupakan gangguan yang sangat serius bagi hewan-hewan mereka.
Keberhasilan Nabi Saleh AS dalam mendatangkan mukjizat yang mereka tuntut, membuat para pemuka kaum Tsamud gagal dalam usahanya untuk menjatuhkan kehormatan dan menghilangkan pengaruh Nabi Saleh AS. Bahkan sebaliknya, makin bertambah tebal kepercayaan para pengikutnya dan menghilangkan banyak keraguan dari kaumnya. Akan tetapi, banyak cara yang dilakukan oleh penentang Nabi Saleh AS, yaitu dengan menghasut para pemilik ternak yang merasa jengkel dan tidak senang dengan adanya unta Nabi Saleh AS yang merajalela di ladang dan kebun-kebun mereka.
Persekongkolan diadakan oleh orang-orang dari kaum Tsamud untuk mengatur rancangan pembunuhan unta Nabi Saleh AS. Muncullah tiba-tiba seorang janda bangsawan yang kaya raya menawarkan akan menyerahkan dirinya kepada siapa yang dapat membunuh unta Nabi Saleh AS. Disamping seorang janda itu, ada seorang wanita lain yang mempunyai beberapa puteri cantik-cantik menawarkan akan menghadiahkan salah seorang dari puteri-puterinya kepada orang yang berhasil membunuh unta itu.
Hadiah yang menggiurkan dari kedua wanita itu mengundang dua orang lelaki bernama Mushadda' bin Muharrij dan Gudar bin Salif. Mereka akan melakukan pembunuhan untuk meraih hadiah yang dijanjikan. Segeralah mereka melaksanakan niatnya untuk membunuh unta Nabi Saleh AS. Mereka membidiknya ketika unta itu hendak minum. Unta yang tidak berdosa itu lalu segeralah dipanah betisnya oleh Musadda' yang disusul oleh Gudar dengan menikamkan pedangnya di perut unta tersebut.
Para pemburu itu merasa bangga telah membunuh unta itu. Mereka segera ke ibu kota menyampaikan berita matinya unta Nabi Saleh AS. Mereka mendapat sambutan sorak-sorai dan teriakan gembira dari pihak kaum Tsamud yang kafir. Berkata mereka kepada Nabi Saleh: "Wahai Saleh! Untamu telah mati dibunuh, cobalah datangkan akan apa yang engkau katakan dulu akan ancamannya bila unta itu diganggu, jika engkau betul-betul termasuk orang-orang yang selalu benar dalam kata-katanya."
Nabi Saleh AS menjawab: "Aku telah peringatkan kepada kalian, bahwa Allah Ta'ala akan menurunkan azab-Nya atas kamu jika kamu mengganggu unta itu. Dengan terbunuhnya unta itu maka tunggulah engkau akan tibanya masa azab yang Allah Ta'ala telah janjikan dan telah aku sampaikan kepada kamu. Kamu telah menentang Allah Ta'ala dan terimalah kelak akibat tentanganmu kepada-Nya. Janji Allah Ta'ala tidak akan meleset. Kamu boleh bersuka ria dan bersenang-senang selama tiga hari ini, kemudian terimalah ganjaranmu yang setimpal pada hari keempat. Demikianlah kehendak Allah Ta'ala dan takdir-Nya yang tidak dapat ditunda atau dihalang."
Nabi Saleh AS memberitahu kaumnya bahwa azab Allah Ta'ala yang akan menimpa diatas mereka akan didahului dengan tanda-tanda, yaitu pada hari pertama bila mereka terbangun dari tidurnya akan menemui wajah mereka menjadi kuning dan berubah menjadi merah. Kemudian, pada hari kedua hitam. Selanjutnya, pada hari ketiga dan pada hari keempat turunlah azab Allah Ta'ala yang pedih.
Mendengar ancaman azab yang diberitahukan oleh Nabi Saleh AS kepada kaumnya, kelompok pembunuh unta merancang pembunuhan atas diri Nabi Saleh AS mendahului tibanya azab yang diancamkan itu. Mereka mengadakan pertemuan rahasia dan bersumpah bersama akan melaksanakan rancangan pembunuhan itu di malam hari. Rancangan mereka ini dirahasiakan sehingga tidak diketahui dan didengar oleh siapa pun kecuali oleh mereka sendiri.
Ketika mereka datang ke tempat Nabi Saleh AS untuk melaksanakan rencana jahatnya itu. Tiba-tiba berjatuhanlah diatas kepala mereka batu-batu besar yang tidak diketahui dari arah mana datangnya dengan seketika mereka berjatuhan di atas tanah dalam keadaan tidak bernyawa lagi. Demikianlah Allah Ta'ala telah melindungi rasul-Nya dari perbuatan jahat hamba-hamba-Nya yang kafir. Satu hari sebelum hari turunnya azab yang telah ditentukan itu, dengan izin Allah Ta'ala berangkatlah Nabi Saleh AS bersama para mukminin pengikutnya menuju Ramlah, sebuah tempat di Palestin, meninggalkan Hijir dan penghuninya, kaum Tsamud habis binasa, ditimpa halilintar yang dahsyat beriringan dengan gempa bumi yang mengerikan.

Mukjizat Nabi Hud AS

Mukjizat Nabi Hud AS
Kisah Nabi Hud AS disebutkan dalam 10 surah diantaranya surah Hud, ayat 50 hingga 60, surah "Al-Mukminun" ayat 31 hingga ayat 41, surah "Al-Ahqaaf" ayat 21 hingga ayat 26 dan surah "Al-Haaqqah" ayat 6, 7, dan 8.
Nabi Hud AS dalam silsilah masih keturunan Nabi Nuh AS. Nabi Hud AS diutus oleh Allah Ta'ala untuk berdakwah kepada kaum Ad. Kaum Ad adalah kaum yang hampir sama dengan kaum Nabi Nuh AS dalam menyembah Tuhannya, yaitu menyembah berhala. Mereka membuat patung-patung atau berhala yang kemudian diberi nama "Shamud" dan "Alhattar". Berhala itu kemudian disembah sebagai tuhan mereka. Mereka percaya bahwa berhala itu dapat memberi perlindungan, kebaikan, dan keuntungan serta dapat menolak segala musibah. Oleh sebab itu, mereka tidak putus-putus sujud kepada kedua berhala itu.
Kaum Ad telah sesat, mereka telah dikuasai oleh tipu daya iblis. Pada saat itu, disana nilai-nilai moral dan akhlak tidak menjadi dasar penimbangan atau kelakuan. Tindak-tanduk mereka bagaikan binatang, mereka hanya mengandalkan kebendaan dan kekuatan lahiriah. Maka wajar sering timbul kerusuhan dan tindakan sewenang-wenang di dalam masyarakat. Kaum yang kuat menindas kaum yang lemah. Sifat-sifat sombong, congkak, iri hati, dengki, hasut, dan benci-membenci yang didorong oleh hawa nafsu merajalela dan menguasai penghidupan mereka. Disana, seolah tidak memberi tempat kepada sifat-sifat belas kasihan, sayang-menyayangi, jujur, amanat, dan rendah hati. Demikianlah gambaran masyarakat suku Ad tatkala Allah Ta'ala mengutus Nabi Hud AS sebagai nabi dan rosul kepada mereka.
Nabi Hud AS diperintahkan oleh Allah Ta'ala untuk meluruskan kembali kehidupan kaum Ad yang telah sesat dan menyimpang dari ajaran-ajaran agama yang dibawa oleh nabi-nabi terdahulu. Nabi Hud AS ditugaskan oleh Allah Ta'ala untuk menyegarkan kembali ajaran-ajaran nabi yang sebelumnya. Mengajak kembali masyarakat Ad yang sudah sesat, ke jalan lurus dan benar.
Kaum Ad yang telah dimabukan oleh kesejahteraan hidup dan kenikmatan duniawi sehingga tidak mengenal Tuhannya. Nabi Hud AS adalah seorang daripada kaum mereka sendiri. Ia berasal dari keluarga yang terpandang dan berpengaruh. Nabi Hud AS sejak kecil memiliki budi pekerti luhur dan sangat bijaksana, baik di rumah maupun dalam pergaulan dengan kawan-kawannya.
Nabi Hud AS memulai dakwahnya dengan menarik perhatian kaum suku Ad. Dengan cara memperlihatkan tanda-tanda kebesaran Allah Ta'ala yang telah menciptakan dan mengaruniakan mereka dengan segala kenikmatan hidup. Dia-lah yang seharusnya mereka sembah dan bukan berhala yang mereka buat sendiri. Kemudian Nabi Hud AS menerangkan bahwa dia diperintahkan oleh Allah Ta'ala untuk membawa mereka ke jalan yang benar dan beriman kepada Allah Ta'ala.
Bagi kaum Ad seruan dakwah Nabi Hud AS itu merupakan omong kosong. Mereka melihat bahwa ajaran yang dibawa oleh Nabi Hud AS itu akan mengubah cara hidup mereka dan merusak adat istiadat yang diwariskan oleh nenek moyang mereka. Mereka dengan tegas menolak ajakan Nabi Hud AS itu dengan berbagai alasan dan ejekan, bahkan hinaan. Ejekan dan hinaan diterima oleh Nabi Hud AS dengan kepala dingin dan penuh kesabaran.
Kaum Ad menganggap bahwa ajaran yang dibawa oleh Nabi Hud AS membuat mereka meninggalkan tuhan-tuhan (berhala) mereka. Kemudian, mereka mempertanyakan tentang tuhan yang disembah Nabi Hud AS yang tidak terjangkau dengan pancaindra mereka. Sebaliknya, kaum Hud menyerukan agar Nabi Hud AS kembali kepada aturan nenek moyangnya.
Nabi Hud AS berkata kepada mereka bahwa sesungguhnya tuhan yang diserukannya ini dapat dirasakan wujudnya dalam diri mereka sendiri. Selain itu, melihat segala ciptaan-Nya berupa alam semesta, langit dengan matahari bulan dan bintang-bintangnya, dan bumi beserta isinya sangat bermanfaat bagi kamu sebagai manusia. Hanyalah Allah Ta'ala yang harus mereka sembah. Allah Yang Maha Esa, tiada bersekutu tidak beranak dan diperanakkan.
Kaum Ad beranggapan bahwa Nabi Hud AS telah mendapatkan kutukan tuhan-tuhan (berhala) sehingga menyebabkan pikirannya kacau. Nabi Hud AS dianggap mengucapkan kata-kata yang tidak masuk akal karena dalam ajaran agamanya, dijelaskan tentang aturan hidup dan akan adanya hari kebangkitan kembali dari kubur serta ganjaran atas segala amalan yang diperbuat.
Nabi Hud AS memulai dakwahnya dengan menarik perhatian kaum suku Ad. Dengan cara memperlihatkan tanda-tanda kebesaran Allah Ta'ala yang telah menciptakan dan mengaruniakan mereka dengan segala kenikmatan hidup. Dia-lah yang seharusnya mereka sembah dan bukan berhala yang mereka buat sendiri. Kemudian Nabi Hud AS menerangkan bahwa dia diperintahkan oleh Allah Ta'ala untuk membawa mereka ke jalan yang benar dan beriman kepada Allah Ta'ala.
Bagi kaum Ad seruan dakwah Nabi Hud AS itu merupakan omong kosong. Mereka melihat bahwa ajaran yang dibawa oleh Nabi Hud AS itu akan mengubah cara hidup mereka dan merusak adat istiadat yang diwariskan oleh nenek moyang mereka. Mereka dengan tegas menolak ajakan Nabi Hud AS itu dengan berbagai alasan dan ejekan, bahkan hinaan. Ejekan dan hinaan diterima oleh Nabi Hud AS dengan kepala dingin dan penuh kesabaran.
Kaum Ad menganggap bahwa ajaran yang dibawa oleh Nabi Hud AS membuat mereka meninggalkan tuhan-tuhan (berhala) mereka. Kemudian, mereka mempertanyakan tentang tuhan yang disembah Nabi Hud AS yang tidak terjangkau dengan pancaindra mereka. Sebaliknya, kaum Hud menyerukan agar Nabi Hud AS kembali kepada aturan nenek moyangnya.
Nabi Hud AS berkata kepada mereka bahwa sesungguhnya tuhan yang diserukannya ini dapat dirasakan wujudnya dalam diri mereka sendiri. Selain itu, melihat segala ciptaan-Nya berupa alam semesta, langit dengan matahari bulan dan bintang-bintangnya, dan bumi beserta isinya sangat bermanfaat bagi kamu sebagai manusia. Hanyalah Allah Ta'ala yang harus mereka sembah. Allah Yang Maha Esa, tiada bersekutu tidak beranak dan diperanakkan.
Kaum Ad beranggapan bahwa Nabi Hud AS telah mendapatkan kutukan tuhan-tuhan (berhala) sehingga menyebabkan pikirannya kacau. Nabi Hud AS dianggap mengucapkan kata-kata yang tidak masuk akal karena dalam ajaran agamanya, dijelaskan tentang aturan hidup dan akan adanya hari kebangkitan kembali dari kubur serta ganjaran atas segala amalan yang diperbuat.
Ajaran Agama yang dibawa Nabi Hud AS dianggap tidak masuk akal karena menurut mereka tidak akan mungkin manusia dibangkitkan kembali dari kubur setelah mati dan menjadi tulang. Selain itu, menurut mereka azab dan siksaan yang diberitakan oleh Nabi Hud AS hanya berupa ancaman semata. Mereka menganggap berita itu omong kosong dan ancaman kosong belaka. Bahkan mereka menentang adanya azab yang dikabarkan oleh Nabi Hud AS dan menganggapnya sebagai pendusta.
Nabi Hud AS sangat terpukul akan tantangan dan pendirian kaum Ad yang tidak mau meninggalkan berhala-berhala sebagai tuhanya. Nabi Hud AS pun berkata akan ada azab dari Tuhan dan mereka tidak akan dapat melepaskan diri dari bencananya. Nabi Hud AS berserah diri kepada Allah Ta'ala atas segala tugas yang diberikan kepadanya. Ia akan tetap berusaha sepanjang hayatnya dalam memberi tuntunan kepada kaumnya tentang jalan yang baik yang telah digariskan oleh Allah Ta'ala.
Pembalasan Allah Ta'ala terhadap kaum Ad yang kafir dan tetap membangkang itu diturunkan dalam dua tahap. Tahap pertama berupa kekeringan yang melanda ladang-ladang dan kebun-kebun mereka, sehingga menimbulkan kecemasan dan kegelisahan. Pada saat itu, mereka tidak memperoleh hasil dari ladang-ladang dan kebun-kebunnya seperti biasanya. Akan tetapi, dalam kondisi tersebut, Nabi Hud AS masih berusaha meyakinkan mereka bahwa kekeringan itu adalah suatu permulaan siksaan dari Allah Ta'ala yang dijanjikan dan bahwa Allah Ta'ala pada tahap itu, Allah Ta'ala masih memberi kesempatan kepada mereka untuk sadar dan bertobat dari kesesatan dan kekafiran. Akan tetapi, mereka menganggap janji Nabi Hud AS itu adalah janji kosong belaka. Mereka bahkan pergi menghadap berhala-berhala. Mereka memohon perlindungan dari musibah yang mereka hadapi.
Tantangan mereka terhadap janji Allah Ta'ala yang diwahyukan kepada Nabi Hud AS segera mendapat jawaban. Datangnya azab tahap kedua, yaitu mulai terlihatnya gumpalan awan hitam yang tebal. Kaum Ad menyambutnya dengan gembira karena menganggap itu adalah gumpalan awan hujan akan segera turun membasahi ladang-ladang dan menyirami kebun-kebun mereka. Melihat sikap kaum Ad yang sedang bersuka ria, Nabi Hud AS berkata bahwa awan hitam itu bukan membawa kegembiraan, tetapi yang akan membawa kehancuran sebagai pembalasan Allah Ta'ala untuk membuktikan kebenaran kata-kata yang pernah diucapkannya.
Apa yang diucapkan Nabi Hud AS itu terbukti benar. Ternyata, bukan hujan yang turun dari awan yang tebal itu, melainkan angin topan yang sangat dahsyat yang disertai bunyi gemuruh. Hal ini akan merusak bangunan-bangunan rumah dan harta benda dan binatang ternak. Saat itu, kaum Ad menjadi panik. Mereka berlarian mencari perlindungan. Mereka juga kehilangan anak, istri, dan saudaranya. Bencana angin topan itu berlangsung selama delapan hari tujuh malam sehingga menyapu bersih kaum Ad yang congkak itu. Adapun Nabi Hud AS dan para sahabatnya yang beriman telah mendapatkan perlindungan Allah Ta'ala dari bencana yang menimpa kaumnya itu. Setelah keadaan cuaca normal kembali. Nabi Hud AS berhijrah ke Hadramaut, menghabiskan sisa hidupnya sampai ia wafat dan dimakamkan disana. Makamnya yang terletak diatas sebuah bukit dan berada pada lebih kurang 50 km dari kota Siwun. Hingga sekarang sering diziarahi orang.

Jumat, 05 Mei 2017

Mukjizat Nabi Nuh AS

Mukjizat Nabi Nuh as.
 
Mukjizat nabi Nuh berkaitan dengan pembuatan bahtera besar. Alloh telah memerintahkan nabi Nuh buat membuat bahtera besar tersebut sebab dengan bahtera inilah nan akan menyelamatkan nabi Nuh dan para pengikutnya dari bahaya banjir besar nan akan Alloh datangkan.

Nabi Nuh membutuhkan waktu nan sangat lama buat membuat bahtera tersebut. dalam waktu belaiu membuat bahtera tersebut, banyak sekali kaum beliau nan menghina belaiu dan menganggap nan beliau lakukan ialah hal nan aneh. Namun nabi Nuh tetap dalam pengerjaan bahtera besar tersebut.

Sampai datanglah pada waktu tibanya banjir besar nan telah dijanjikan oleh Alloh. Nabi Nuh mengajak kepada semua kaumnya buat naik ke atas bahtera nan telah beliau buat. Bahtera besar itulah nan bisa menyelamatkan meraka dari banjir tersebut.

Namun, hanya sedikit sekali nan percaya dan mendengarkan apa nan telah dikatakan oleh nabi Nuh. Sangat sedikit nan mau masuk ke dalam bahtera besar tersebut. bahkan anak dan istri nabi Nuh termasuk ke dalam golongan orang nan ingkar terhadap selebaran nan dibawa oleh nabi Nuh.

Akhirnya Alloh pun menenggelamkan seluruh manusia nan ingkar dan tidak mau masuk ke dalam bahtera nan telah dibuat oleh nabi nuh. Dan orang-orang nan berimanlah nan mau masuk ke dalam bahtera tersebut nan terselamatkan beserta banyaknya hewan nan juga menjadi penumpang dari bahtera tersebut.

Mujizat Nabi Yusuf AS

Mukjizat Nabi Yusuf AS 
Nabi Yusuf adalah putera ketujuh dari duabelas putera-putera Nabi Ya'qub. Ia dengan adiknya yang bernama Bunyamin adalah beribukan Rahil, saudara sepupu Nabi Ya'qub. Ia dikaruniakan Allah rupa yang tampan dan tubuh yang tegap yang menjadikan idaman gadis-gadis remaja. Ia adalah anak yang disayangi oleh ayahnya. Oleh sebab itu, saudara-saudaranya yang lain merasa iri mengapa Yusuf lebih disayang dan dicintai dibandingkan dengan mereka.

Perbedaan perlakuan dari Nabi Ya'qub terhadap anak-anaknya telah menimbulkan rasa iri hati dan dengki diantara saudara-saudara Yusuf yang lain, yang merasakan ayahnya yang tidak adil. Ia lebih menyayangi Yusuf daripada yang lain. Rasa marah mereka terhadap kepada ayahnya dan iri hati terhadap Yusuf membangkitkan niat buruk dihati mereka.

Pada suatu malam Nabi Yusuf bermimpi. Dalam mimpinya seakan-akan sebelas bintang, matahari, dan bulan yang berada dilangit turun dan sujud didepannya. Terburu-buru setelah bangun dari tidurnya, ia datang menghampiri ayahnya, menceritakan kepadanya apa yang ia lihat dan alami dalam mimpinya. Setelah mendengar cerita mimpi Nabi Yusuf, ayahnya berpesan agar tidak menceritakan kepada saudara-saudaranya.

Saudara-saudara Yusuf berencana mengadakan pertemuan untuk mecelakai Yusuf. Akhirnya, rencana mereka dilaksanakan dengan membawa Yusuf rekreasi. Akan tetapi, apa yang terjadi? Mereka melempar Nabi Yusuf ke dalam sumur. Perbuatan buruk itu dilakukan akibat sifat-sifat cemburu, iri hati, dan dengki. Mereka pun telah berencana apabila ayahnya menanyakan tentang keberadaan Yusuf maka mereka sepakat mengatakan bahwa Yusuf dimakan srigala. (Isi cerita tersebut diatas terdapat dalam Al-Qur'an, dalam surah "Yusuf" ayat 4 hingga ayat 10).

Pada petang hari, pulanglah mereka kerumah tanpa Yusuf yang ditinggalkan seorang diri dasar telaga yang gelap itu, dengan membawa serta pakaiannya setelah disirami darah seekor kelinci yang sengaja dipotong. Mereka menghadap Nabi Ya'qub dengan menangis mencucurkan air mata dan bersandiwara seakan-akan berduka atas nasib yang ditimpa Yusuf.

Yusuf sedang berada disumur seorang diri, ia diliputi oleh kegelapan dan kesunyian yang mencekam. Ternyata apa yang terdengar oleh Yusuf, ia mendengar suara-suara musafir yang sedang berhenti di sekitar sumur. Para musafir itu berhenti sambil mencari air untuk diminum bagi mereka dan binatang-binatang mereka. Alangkah gembiranya Yusuf ketika ia mendengar suara musafir yang melepaskan gayung mengambil air dari sumur itu. Sejurus kemudian dilihat oleh Yusuf sebuah gayung turun kebawah dan terjangkau oleh tangannya. Kemudian, ia memegang gayung itu dengan kuat. Gayung itu ditarik keatas oleh sang musafir berteriak karena beratnya gayung yang ditariknya itu. 

Para musafir yang berada di kafilah itu terpenjarat dan takjub ketika melihat bahwa yang memberatkan gayung itu bukannya air, tetapi manusia berparas tampan, bertubuh tegak, dan berkulit putih bersih. Mereka berunding apa yang akan diperbuat dengan hamba Allah yang telah ditemukan didasar sumur itu. Akhirnya, mereka bersepakat untuk membawanya ke Mesir dan dijual sebagai budak.

Setibanya kafilah itu di Mesir, dibawalah Yusuf di sebuah pasar khusus, dimana manusia diperdagangkan dan diperjualbelikan sebagai barang dagangan. Yusuf lalu ditawarkan didepan umum. Para musafir yang membawanya itu khawatir akan terbuka pertemuan Yusuf maka mereka enggan mempertahankan sampai mencapai harga yang tinggi, tetapi melepaskannya pada tawaran pertama dengan harga yang rendah.

Nabi Yusuf dibeli oleh seorang Pembesar Mesir atau perdana menteri Mesir. Kemudian, sang menteri menitipkan Yusuf kepada isterinya. Yusuf dirumahnya sang perdana menteri tidak dianggap sebagai budak belian, melainkan sebagai salah seorang daripada anggota keluarganya. Yusuf pun dapat menyesuaikan diri dengan keluarga sang perdana menteri. Ia melakukan tugas sehari-harinya dirumah dengan penuh semangat dan kejujuran serta disiplin yang tinggi. Segala kewajiban dan tugas yang diperintahkan kepadanya, diurus dengam senang hati seolah-olah perintah dari orang tuanya sendiri.

Yusuf hidup tenang dan tenteram dirumah Pembesar Mesir, sejak menginjakkan kakinya dirumah itu. Ia mendapat kepercayaan penuh dari keluarga perdana menteri. Ia mengurus rumah tangga mereka, ia tidak menuntut upah dan balasan atas segala tenaga dan jerih payah yang dicurahkan untuk kepentingan keluarga. Ia menganggap dirinya dirumah itu bukan sebagai budak, tetapi sebagai seorang dari anggota keluarga. Demikian pula anggapan suami-istri tersebut terhadap dirinya.

Yusuf kemudian tumbuh sebagai pemuda remaja yang gagah perkasa dan tampan. Ia banyak disukai para wanita, tidak terkecuali istri perdana menteri itu sendiri. Istri perdana menteri merupakan seorang wanita muda cantik dan ayu, yang juga tergoda dengan ketampanan Nabi Yusuf. Ia tidak berupaya menguasai perasaan hati dan hawa nafsunya dengan kekuatan akalnya. Bila ia duduk seorang diri, maka terbayanglah didepan matanya akan paras Yusuf yang tampan. Akhirnya, sang istri perdana menteri menggunakan taktik, memancing-mancing Yusuf agar ia lebih dahulu mendekatinya. Namun, Yusuf bertindak seperti biasanya berlaku sopan santun dan hormat, tidak sedikit pun terlihat terpikat oleh aksi Zulaikha yang ingin menarik perhatiannya. Yusuf sebagai calon Nabi telah dibekali oleh Allah dengan iman yang mantap, akhlak yang luhur, dan budi pekerti yang tinggi. 

Sikap dingin Yusuf terhadap rayuan dan tingkah laku Zulaikha membuat Zulaikha bertekad akan berusaha terus sampai maksudnya tercapai. Kesempatan ketika si suami tidak ada dirumah, masuklah Zulaikha ke kamar tidurnya seraya berkata kepada Yusuf agar mengikutinya. Yusuf segera mengikutinya dan masuk ke kamar Zulaikha, sebagaimana ia sering melakukannya bila dimintai pertolongannya melakukan sesuatu didalam kamar. Sekali-kali, tidak terlintas dalam pikirannya bahwa perintah Zulaikha kali itu kepadanya untuk masuk ke kamarnya untuk melakukan sesuatu yang biasa.

Yusuf kemudian memalingkan wajahnya ke arah lain, berkatalah Yusuf: "Semoga Allah melindungiku dari godaan syaitan. Tidak mungkin wahai tuan putreriku aku akan melakukan maksiat dan memenuhi kehendakmu. Jika aku melakukan apa yang tuan puteri kehendaki, maka aku telah mengkhianati tuanku, suami tuan puteri, yang telah melimpahkan kebaikannya dan kasih sayangnya kepadaku. Kepercayaan yang telah dilimpahkannya kepadaku, adalah suatu amanat yang tidak patut aku cederai. Sesekali tidak akanku balas budi baik tuanku dengan pengkhianatan dan penodaan nama baiknya. Selain itu Allah pun akan murka kepadaku dan akan mengutukku bila aku lakukan apa yang tuan puteri mintakan padaku. Allah Maha Mengetahui segala apa yang diperbuat oleh hambanya".

Yusuf melihat mata Zulaikha yang melotot dan wajahnya yang memerah, menjadi takut akan terjadi hal-hal yang tidak diinginkan, Yusuf segera lari menuju pintu yang tertutup. Namun, Zulaikha cepat-cepat bangun dari ranjangnya mengejar Yusuf yang sedang berusaha membuka pintu, ditariklah baju bagian belakan Yusuf oleh Zulaikha sehingga terkoyak. Tepat pada masa mereka berada di belakang pintu, datanglah sang perdana menteri.

Zulaikha cepat-cepat mendekati suaminya yang masih berdiri tercengang memandang kepada kedua orang kepercayaannya itu: "Inilah dia Yusuf, hamba yang engkau puja dan puji itu telah berani secara kurang ajar masuk ke kamarku dan memaksaku memenuhi nafsu syahwatnya. Berilah ia ganjaran yang setimpal dengan perbuatan biadapnya. Orang yang tidak mengenal budi baik kami ini harus dipenjarakan dan diberikan siksaan yang pedih".

Yusuf mendengar laporan dan tuduhan palsu Zulaikha kepada suaminya, Yusuf tidak dapat berbuat apa-apa selain memberi keterangan apa yang terjadi sebenarnya. Berkatalah ia kepada majikannya, Futhifar: "Sesungguhnya dialah yang menggodaku, memanggil aku ke kamarnya, lalu memaksaku memenuhi nafsu syahwatnya. Aku menolak tawarannya itu dan lari menyingkir, namun ia mengejarku dan menarik bajuku dari belakan sehingga terkoyak".

Sang perdana menteri menjadi bingung dalam keadaan tersebut. Sesungguhnya, siapakah diantara kedua orang itu yang benar? Kemudian, tibalah seorang dari keluarga Zulaikha, yaitu saudaranya sendiri yang dikenal bijaksana, pandai dan selalu memberi pertimbangan yang tepat bila dimintai pikiran dan nasihatnya. Atas perintah perdana menteri untuk memberinya pertimbangan dalam masalah yang membingunggkan itu, berkatalah saudaranya: "Lihatlah, bila kemeja Yusuf terkoyak bagian belakangnya, maka ialah yang benar dan istrimu yang berdusta. Sebaliknya, bila koyak bajunya dibagian depan maka dialah yang berdusta dan istrimu yang berkata benar".
 
Perdana menteri akhirnya meminta Yusuf untuk merahasiakan permasalahan ini. Akan tetapi, tetap saja berita tentang peristiwa itu tercium oleh masyarakat, terutama kalangan istri petinggi negara. Untuk mengetahui sejauh mana tanggapan para wanita penduduk megeri, Zulaikha akhirnya mengundang para wanita di negerinya. Pada acara itu, mereka diberi masing-masing satu apel dan satu buah pisau untuk memakan buah apel. Ketika Yusuf diminta untuk keluar, tercenganglah para wanita itu. Tanpa disadari para tamu wanita yang sedang memegang pisau dan buah apel itu melukai jari-jari tangannya sendiri. Mereka terkagum-kagum dan berkata: "Maha Sempurna Allah. Ini bukanlah manusia. Ini adalah seorang malaikat yang mulia".
 
Zulaikha bertepuk tangan tanda gembira melihat usaha kejutannya berhasil dan sambil menunjuk ke jari-jari wanita yang teriris dan mencucurkan darah itu berkatalah dia: "Inilah dia Yusuf, yang menyebabkan aku menjadi ejekanmu dan sasaran kecaman-kecaman orang. Tidakkah kami setelah melihat Yusuf, bila ia menawan hatiku dan membangkitkan hawa nafsu syahwatku sebagai seorang wanita muda yang tidak pernah melihat orang yang setampan parasnya, dan seluhur akhlak Yusuf? Salahkah aku jika aku tergila-gila olehnya, sampai lupa akan kedudukanku dan kedudukan suamiku? Aku harus mengaku didepan kalian bahwa memang akulah yang menggodanya dan merayunya. Dengan segala daya upaya, aku ingin memikat hatinya dan mengundangnya untuk melayani nafsu syahwatku. Akan tetapi, dia bertahan diri, tidak menghiraukan ajakanku dan bersikap dingin terhadap rayuan dan godaanku. Aku akan menjebloskannya kedalam penjara karena telah menghinaku". 
 
Nabi Yusuf berdo'a memohon kepada Allah agar memberi ketetapan iman dan keteguhan tekad kepadanya agar tidak tersesat oleh godaan setan dan tipu muslihat kaum wanita yang akan menjerumuskannya kedalam lembah kemaksiatan dan perbuatan nungkar. Kemudian, ia memilih dipenjara dari pada harus terjerumus lembah kemaksiatan.
Suami Zulaikha mengetahui dengan pasti bahwa Yusuf bersih dari tuduhan yang dilemparkan kepadanya. Ia juga sadar bahwa istrinyalah yang menjadi permasalahan dalam peristiwa yang sampai mencemarkan nama baik keluarganya. Akan tetapi, ia tidak dapat berbuat selain mengikvi nasihat istrinya yang menganjurkan agar Yusuf dipenjarakang. Karena dengan memasukkan Yusuf kedalam penjara, nama baiknya akan pulih kembali dan desas-desus serta kasak-kusuk masyarakat tentang rumah tangganya akan berakhir. Demikianlah, maka perintah dikeluarkan oleh Futhifar dan masuklah Yusuf ke dalam penjara sesuai dengan do'anya. 

Bagi Nabi Yusuf, penjara adalah tempat yang aman untuk menghindari segala godaan dan tipu daya. Hidup didalam sebuah penjara yang gelap dan sempit, dimana gerak badannya dan pandangan matanya dibatasi, adalah lebih baik dan lebih disukai dari pada hidup di alam bebas dimana jiwanya tertekan dan hatinya tidak merasa aman dan tentram. Di dalam penjara, Yusuf dapat membulatkan pikirannya dan jiwanya beribadah dan menyembah kepada Allah. Di samping itu, ia dapat melakukan dakwah didalam penjara. 

Bersama dengan Nabi Yusuf, terdapat pula dua orang pegawai istana Raja yang dipenjara. Tuduhan mereka berdua adalah hendak meracuni Raja atas perintah dan dengan kerja sama dengan pihak musuh istana. Dua pemuda pegawai yang dipenjara itu, seorang penjaga gudang makanan dan seorang seorang lagi sebagai pelayan meja istana. 

Pada suatu hari datanglah kedua pemuda tahanan itu ketempat Nabi Yusuf mengirahkan bahwa mereka telah mendapat mimpi. Si pelayan melihat seakan-akan berada ditengah sebuah kebun anggur memegang gelas, seperti gelas yang sering digunakan minum oleh raja, majikannya lalu diisinya gelas itu dengan perahan buah anggur. Sedangkan pemuda penjaga gudang melihat dalam mimpinya seolah-olah mendukung diatas kepalanya sebuah keranjang yang berisi roti, lalu rotinya disambar oleh sekelompok burung dan di bawanya terbang. Kedua pemuda tahanan itu mengharapkan bagi mimpi mereka kepada Nabi Yusuf. 

Nabi Yusuf berkata bahwa pemuda pelayan akan segera dhkeluarkan dari penjara dan akan dipekerjakan kembali seperti sedia kala. Sementara itu, pemuda penjaga gudang akan dihukum mati dengan disalib dan kepalamu akan menjadi makanan burung-burung yang mematuknya. Demikianlah tafsiran mimpi yang telah menjadi hukum Allah bagi kamu berdua. Kemudian, Yusuf berpesan kepada pemuda pelayang yang akan keluar agar menceritakan kisahnya yang diperlakukan sewenang-wenang kepada raja. 

. Sesuai dengan tafsir Nabi Yusuf, selang tidak lama keluarlah surat pengampunan Raja bagi pemuda pelayan dan hukuman salib bagi pemuda penjaga gudang dilaksanakan. Akan tetapi, pesanan Nabi Yusuf kepada pemuda pelayan, tidak disampaikan kepada Raja setelah ia diterima kembali bekerja di istana. Dengan demikian, tetaplah Nabi Yusuf berada dipenjara beberapa tahun lamanya. 

Pada suatu hari berkumpullah di istana Raja Mesir para pembesar, penasihat, dan para arif bijaksana yang sengaja diundang oleh Raja untuk memberi tafsir mimpi yang telah memusingkan hatinya. Ia bermimpi seakan-akan melihat tujuh ekor sapi betina yang kurus-kurus. Disamping itu, ia melihat pula dalam mimpinya tujuh butir gandum hijau, disamping tujuh butir yang lain kering. Tidak seorang dari pembesar-pembesar yang didatangkan itu yang dapat memberi tafsiran mimpi bagi mimpi Raja. Bahkan sebagian dari mereka menganggap sebagai mimpi kosong yang tak berarti dan menganjurkan Raja melupakan saja mimpi itu dan menghilangkannya dari pikirannya. 

Pelayan Raja, yang menjadi teman Yusuf didalam penjara, teringat oleh pesan Nabi Yusuf, kepadanya sewaktu ia akan dikeluarkan dari penjara. Kemudian ia menceritakan kepada Raja tentang tafsir mimpi yang diberikan oleh Nabi Yusuf bagi mimpinya adalah tepat. Kemudian, ia mencoba memberanikan diri menghampiri Raja dan berkata: "Wahai Tuanku! Hamba mempunyai seorang teman kenalan didalam penjara yang pandai menafsirkan mimpi. Ia adalah seorang yang cakap, ramah, dan berbudi pekerti luhur. Ia tidak berdosa dan tidak melakukan kesalahan apapun. Ia dipenjara hanya karena fitnahan dan tuduhan palsu belaka. Ia telah memberi tafsiran bagi mimpiku sewaktu hamba berada dalam tahanan bersamanya dan ternyata tafsirannya tepat dan benar sesuai dengan apa yang hamba alami. Jika Tuan berkenan, hamba akan pergi mengunjunginya di penjara untuk menanyakan tentang arti dari mimpi Tuan".

 
Dengan izin Raja, pergilah pelayan mengunjungi Nabi Yusuf dalam penjara. Ia menyampaikan kepada Nabi Yusuf kisah mimpi Raja yang tidak seorang pun dapat memberikan tafsiran yang memuaskan dan melegakan hati Raja. Ia mengatakan kepada Nabi Yusuf bahwa jika Raja dapat dipuaskan dengan pemberian tafsiran mimpinya, mungkin sekali ia akan dikeltarkan dari penjara. 

Berucaplah Nabi Yusuf menguraikan tafsiran dari mimpi sang Raja: "Negara akan menghadapi masa makmur, selama tujuh tahun, dimana tumbuh-tumbuhan dan semuah tanaman gandum, padi, dan sayur-mayur akan mengalami masa menuai yang baik yang membawa hasil makanan berlimpah-ruah, kemudian menyusuk musim kemarau selama tujuh tahun berikutnya dimana sungai Nil tidak memberi air yang cukup bagi ladang-ladang yang kering, tumbuh-tumbuhan dan tanaman rusak dimakan hama sedang persediaan bahan makanan hasil tuaian tahun-tahun subur itu sudah habis dimakan. Setelah mengalami kedua musim tujuh tahun itu akan tibalah tahun basah dimana hujan akan turun dengan lebatnya menyirami tanah-tanah yang kering dan kembali menghijau menghasilkan bahan makanan dan buah-buahan yang lezat yang dapat diperah untuk diminum. Maka jika tafsiranku ini menjadi kenyataan," Nabi Yusuf berkata lebih lanjut, "seharusnya kamu menyimpan baik-baik apa yang telah dihasilkan dari tahun-tahun subur, serta berhemat dalam pemakaiannya untuk persiapan menghadapi masa kering, agar terhindar dari bencana kelaparan dan kesengsaraan".
 
Raja setelah mendengar dari pelayannya apa yang diceritakan oleh Nabi Yusuf tentang mimpinya merasakan bahwa tafsiran yang didengar itu sangat masuk akal dan dapat dipercayai bahwa apa yang telah diperkirakan oleh Yusuf akan menjadi kenyataan. Ia memperoleh kesan bahwa Yusuf yang telah memberi tafsiran yang tepat itu adalah seorang yang pandai dan bijaksana, dan akan sangat berguna bagi negara jika ia didudukkan di istana menjadi penasihat dan pembantu kerajaan 

Raja Mesir yang sudah banyak mendengar tentang Nabi Yusuf dan terkesan oleh tafsiran yang diberikan bagi mimpinya secara terperinci dan menyeluruh makin merasa hormat kepadanya, mendengar tuntutannya agar diseselaikan lebih dahulu soal tuduhan dan fitnahan yang dilemparkan atas dirinya sebelum ia dikeluarkan dari penjara. Raja menandakan kejujurannya, kesucian hatinya dan kebesaran jiwanya bahwa ia tidak ingin dibebaskan atas dasar pengampunan, tetapi ingin dibebaskan karena ia bersih dan tidak bersalah serta tidak berdosa. 


Tuntutan Nabi Yusuf diterima oleh sang Raja dan segera dikeluarkan perintah mengumpulkan para wanita yang telah menghadiri jamuan makan Zulaikha dan teriris ujung jari tangan masing-masing ketika melihat wajahnya. Dihadapan Raja mereka menceritakan tentang apa yang mereka lihat dan alami dalam jamuan makan itu serta percakapan yang mereka lakukan dengan Nabi Yusuf. Mereka menyatakan pesan mereka tentang diri Nabi Yusuf bahwa ia seorang yang jujur, soleh, bersih dan dia tidak bersalah dalam peristiwa tersebut. Zulaikha pun dalam pertemuan itu, mengakui bahwa memang dialah yang berdosa dalam peristiwa tersebut dan dialah yang menganjurkan kepada suaminya agar memenjarakan Yusuf serta memberikan gambaran palsu kepada masyarakat. 

Hasil pertemuan Raja dengan para wanita itu di umumkan agar diketahui oleh seluruh lapisan masyarakat dan dengan demikian terungkaplah tabir yang meliputi peristiwa Yusuf dan Zulaikha. Oleh karena itu, atas perintah Raja, dikeluarkanlah Nabi Yusuf dari penjara secara hormat, bersih dari segala tuduhan. Ia pergi langsung ke istana Raja memenuhi undangannya. 

Raja Mesir yang telah banyak mendengar tentang Nabi Yusuf dari pelayannya, teman Nabi Yusuf dalam penjara, dari kesaksian wanita-wanita tamu Zulaikha dalam jamuan makan dan dari Zulaikha sendiri, makin bertambah rasa hormat dan kagumnya terhadap Nabi Yusuf. Kemudian, Raja menawarkan agar ia tinggal di istana mewakili Raja menyelenggarakan pemerintahan serta pengurusan negara dan memimpin rakyat Mesir yang diramalkan akan menghadapi masa-masa sukar dan sulit. 

Nabi Yusuf tidak menolak tawaran Raja Mesir itu. Ia menerimanya asal saja kepadanya diberi kekuasaan penuh dalam bidang keuangan dan bidang pengendalian bahan makanan, karena menurut pertimbangan Nabi Yusuf, kedua bidang yang berkaitan antara satu sama lain itu merupakan kunci dari kesejahteraan rakyat dan kestabilan negara. Raja yang sudah mempunyai kepercayaan penuh terhadap Nabi Yusuf, beliau memutuskan penobatan Nabi Yusuf sebagai wakil Raja. Setelah selesai penobatan, Raja Mesir berkenan untuk menikahkan Yusuf dengan Zulaikha, janda perdana menteri yang telah meninggal dunia ketika Nabi Yusuf AS masih didalam penjara. 

Sebagai penguasa yang bijaksana, Nabi Yusuf memuliakan tugasnya dengan mengadakan lawatan ke daerah-daerah yang termasuk dalam kekuasaannya untuk berkenalan dengan rakyat jelata. Selain itu, Nabi Yusuf tidak lupa akan peringatan yang terkandung dalam mimpi Raja Mesir, bahwa akan datang masa tujuh tahun yang sukar dan sulit. Oleh sebab itu, untuk menghadapi masa itu, Nabi Yusuf mempersiapkan gudang bagi penyimpanan bahan makanan untuk musim kemarau yang akan datang. 

Berkat pengurusan yang bijaksana dari Nabi Yusuf, maka setelah masa hijau dan subur berlalu dan masa kering tiba, rakyat Mesir tidak sampai mengalami krisis makanan ataupun derita kelaparan. Dalam rombongan masyarakat yang mengantri makanan, terdapat beberapa orang yang dikenal Nabi Yusuf . Sebenarnya telah lama ia memperhatikan saudaranya itu. Ia merasa telah tiba saatnya untuk mengenalkan dirinya kepada saudara-saudaranya dan dengan demikian akan dapat mengakhiri penderitaan ayahnya yang malang itu. Berkatalah Nabi Yusuf kepada mereka secara mengejek: "Masih ingatkah kamu apa yang telah kamu lakukan terhadap adikmu Yusuf, tatkala kamu mempertuntutkan hawa nafsu melemparkannya kedalam sumur di suatu tempat yang terpencil? Dan masih teringatkah olehmu tatkala seorang darimu memegang Yusuf dengan tangannya yang ktat, menanggalkan pakaiannya dari tubuhnya lalu dalam keadaan telanjang bulat ditinggalkannyalah ia seorang diri didalam sumur yang gelap dan kering itu, lalu tbnta menghiraukan ratap tangisnya, kamu kembali pulang kerumah dengan rasa puas seakan-akan kamu telah membuang sebuah benda atau seekor bhnatang yang tidak patut dikasihani dan dihiraukan nasibnya?"
 
Mendengar kata-kata yang diucapkan oleh wakil Raja Mesir itu, tercenganglah para saudara Yusuf, bertanya-tanya kepada dirinya masing-masing, seraya memandang antara satu dengan yang lain, bagaimana peristiwa itu sampai diketahuinya secara terperinci, padahal tidak seorang pun dari mereka pernah membocorkan berita peristiwa itu kepada orang lain, juga kepada Bunyamin pun yang sedang berada didalam istana Raja. Kemudian masing-masing dari mereka menyorotkan matanya, mulutnya dan seluruh tubuhnya dari kepala sampailah ke kaki. Dicarinya ciri-ciri khas yang mereka ketahui berada pada tubuh Yusuf semasa kecilnya. Lalu berbisik-bisiklah mereka dan sejurus kemudian keluarlah dari mulut mereka secara serentak suara teriakan: "Engkaulah Yusuf".
 
"Benar", Yusuf menjawab, "Akulah Yusuf dan ini adalah adikku setunggal ayah dan ibu, Bunyamin. Allah dengan rahmat-Nya telah mengakhiri segala penderitaanku dan segala ujian berat yang telah aku alami dan dengan rahmat-Nya pula kami telah dikaruniai nikmat rezeki yang melimpah ruah dan penghidupan yang sejahtera. Demikianlah barangsiapa yang bersabar, bertakwa serta bertawakkal tidaklah akan luput dari pahala dan ganjarannya".
 
Berkatalah saudara-saudara Yusuf dengan nada yang rendah: "Sesungguhnya kami telah berdosa terhadap dirimu dan bertindak kejam ketika kami melemparkan kamu ke dasar telaga. Kami lakukan perbuatan kejam itu, terdorong oleh hawa nafsu dan bisikan syaitan yang terkutuk. Kami sangat sesalkan peristiwa yang terjadi itu berakibat penderitaan bagimu dan bagi ayah kami. Akan tetapi, kini nampaknya kepada kami kelebihanmu diatas diri kami dan bagaimana Allah mengaruniakan nikmat-Nya kepadamu sebagai ganti penderitaan yang disebabkan oleh perbuatan kami yang durhaka terhadapmu. Maka terserah kepadamu untuk tindakan pembalasan apakah yang akan engkau timpakan atas kami".
 
Kemudian, Nabi Yusuf berkata untuk menentramkan hati saudara-saudaranya yang sedang ketakutan: "Tidak ada manfaatnya menyesalkan apa yang telah terjadi dan menggugat kejadian-kejadian yang telah lalu. Cukuplah sudah bila itu semua menjadi pengajaran bahwah mengikuti hawa nafsu dan rayuan syaitan selalu akan membawa penderitaan dan mengakibatkan kebinasaan didunia dan diakhirat. Mudah-mudahan Allah mengampuni segala dosamu, karena Dialah Yang Maha Penyayang serta Maha Pengampun. Pergilah kamu sekarang juga kembali kepada ayah dengan membawa baju kemejaku ini. Usapkanlah ia pada kedua belah matanya yang insya Allah akan menjadi terang kembali, kemudian bawalah ia bersama semua keluarga kesini secepat mungkin".
 
Ketika Nabi Yusuf bertemu ayahnya, segera ia merangkul sang ayah. Mereka mencucurkan air mata suja dan gembira. Seketika semuanya pada merebahkan diri bersujud sebagai tanda syukur kepada Allah serta penghormatan bagi Yusuf, kemudian dinaikkannyalah ayah dan ibu tirinya serta saudaranya ke atas singgasana seraya berkata: "Wahai ayahku! Inilah dia tafsiran mimpiku yang dahulu itu, menjadi kenyataan. Dan tidak kurang-kurang rahmat dan karunia Allah kepadaku yang telah mengangkatku dari dalam sumur, mengeluarkan aku dari penjara dan mempertemukan kami semua setelah syaitan telah merusakkan hubungan persaudaraan antara aku dan saudara-saudaraku. Sesungguhnya Allah Maha Lembut terhadap apa yang Dia kehendaki dan sesungguhnya Dialah Yang Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana". Kemudian Nabi Yusuf mengangkat tangannya berdo'a: "Ya Tuhanku! Engkau telah menganugerahkan kepadaku sebagian kerajaan dan mengajarkan kepadaku pengetahuan serta kepandaian mentafsirkan mimpi. Ya Tuhanku Pencipta langit dan bumi! Engkaulah perlindungku didunina dan diakhirat, wafatkanlah aku dalam keadaan Islam, beriman, dan bertakwa serta gabungkanlah aku dengan orang-orang yang soleh".