Tampilkan postingan dengan label pertanyaan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label pertanyaan. Tampilkan semua postingan

Jumat, 19 Mei 2017

10 pertanyaan tentang nabi

10 Pertanyaan Tentang Nabi
1. Siapa nabi yang dikenal cerdas dan pandai berdebat sehingga lawan bicaranya bisa mati kutu?
Nah jawabannya tentu saja Nabi Ibrahim AS. Kecerdasan beliau sudah Nampak dari kecil. Allah SWT mengkaruniakan kepad
a Beliau hikmah dan kecerdasan sejak kecil. Allah Subhaanahu wa Ta’ala berfirman, “Dan sesungguhnya telah Kami anugerahkan kepada Ibrahim hidayah kebenaran sebelumnya, dan Kami mengetahui (keadaan)nya.” (Q.S Al Anbiyaa’: 51)
Sebelum diangkat menjadi nabi dan rasul, disaat orang-orang menyembah berhala, beliau justru tidak mau menyembahnya dan memilih bertafakkur mencari siapa tuhan yang sebenarnya. Dari sini beliau sudah cerdas. Kemudian setelah diangkat menjadi Rasul, beliau dengan cerdasnya berdebat dengan Raja Namrud saat beliau ditangkap karena telah menghancurkan berhala-berhala.
“hai Ibrahim ! kamu pasti yang menghancurkan berhala-berhala ini?” Tanya Raja Namrud
“ enak saja menuduh saya pelakunya. Tanyakan saja kepada berhala yang paling besar itu. Buktinya kapak itu ada di lehernya. Dia mungkin iri dan tidak mau ada saingan untuk di sembah. Makanya berhala-berhala yang lain dihancurkan?” jawab nabi Ibrohim AS berargumen.
Mendengar jawaban Nabi Ibrohim AS, raja Namrud pun malah tertawa meledek
“hahahahaha jawabanmu sungguh menggelikkan. Berhala ini tidak bisa bergerak dan tidak bisa berbuat apa-apa. Mana mungkin dia yang menghacurkan berhala-berhala yang lain?”
“ nah justru itu, sudah tau berhala-berhala itu tidak bisa berbuat apa-apa. Kenapa pula kalian sembah dan mintai pertolongan. Padahal untuk menolong dirinya sendiri saja ia tidak mampu. Tidakkah kalian berpikir kesitu?”
Mendengar sanggahan Nabi Ibrohim AS, raja Namrud pun mati kutu dan tidak bisa berkutik. Ia bingung mau jawab apa. Bahkan orang-orang yang menyaksikan pun mulai terbuka mata hatinya kalau apa yang mereka lakukan selama ini yakni menyembah berhala hanyalah sia-sia belaka karena berhala tidak bisa berbuat apa-apa. Akhirnya raja Namrud menghukum nabi Ibrohim AS dengan membakarnya. Tapi tentu saja itu tidak mempan membunuh beliau karena Allah SWT sudah pasti menyelamatkan Nabi Nya. Allah SWT lalu memerintahkan api agar tidak membakar beliau. Itulah sekelumit kisah tentang Nabi Ibrohim AS.
Selain itu ada lagi Nabi yang terkenal cerdas yaitu Nabi Khidir AS. Beliau adalah Nabi Allah, bukan Rosul. Karena beda antara Nabi dengan Rosul. Setiap Rosul itu sudah pasti nabi dan setiap Nabi itu belum tentu seorang Rosul. Oleh karena itu Nabi dan Rosul Yang wajib diketahui oleh umat Islam berjumlah 25 Nabi dan Rasul. Bagaimanapun juga semua Nabi sudah pasti dianugerahkan kecerdasan yang lebih oleh Allah SWT.
2. Siapa nabi yang ingin merasakan mati dengan meminta dicabut nyawanya kemudian nyawanya dikembalikan lagi ?
Kalau yang ini adalah Nabi Idris AS. Beliau memohon kepada Allah bagaimana rasanya merasakan kematian. Setelah permohonannya dikabulkan, Malaikat Izrail mencabut nyawanya kemudian mengembalikannya lagi. setelah itu malaikat bertanya
“wahai Nabiyallah Idris, bagaimana rasanya merasakan mati?”
“ ternyata mati itu menyakitkan. Saat nyawa saya dicabut, kulit saya seperti dikelupas hidup-hidup dan badan saya terasa dicacah-cacah seperti daging oleh ribuan pedang” jawab Nabi Idris
Dari sini kita mengambil pelajaran bahwa proses kematian itu sangat menyakitkan. Nabi saja merasakan sakit, apalagi kita manusia biasa. Oleh karena itu, berusahalah menjadi orang yang bertaqwa sehingga ketika meninggal semoga Allah memberik kita meninggal dalam keadaan Khusnul Khotimah. Aamiin
3. Siapa nabi yang memiliki unta tapi untua tersebut dilahirkan dari batu ?
Kalau yang ini tentu saja jawabannya adalah Nabi Sholeh AS. Beliau ini mendapat tantangan dari Kaumnya agar menunjukkan bukti kalau beliau adalah seorang Nabi Allah. Allah pun memberikan mukjizat kepada nabi Sholeh AS dengan menganugerahakn unta yang keluar dari batu sebagai bukti kalau beliau memang benar-benar Nabi Allah. Sayangnya unta tersebut kemudian malah dibunuh oleh kaumnya yang durhaka sehingga kaumnya yang durhaka itupun langsung mendapat azab,
4. Siapa nabi yang memiliki banyak anak kembar ?
Tentu saja yang ini adalah Nabi Adam AS. Karena beliau menusia pertama yang diciptakan Allah SWT kemudian disusul Siti Hawa. Siti Hawa, Setiap melahirkan ini selalu memiliki anak kembar yakni laki-laki dan perempuan, dan dari keturunannya inilah manusia berkembang seperti sekarang ini yang sangat beragam yang memiliki cirri masing-masing. Lihatlah perbedaan orang afrika, India, Indonesia, jepang, Arab, eropa, amerika,dll. Semua mempunyai cirri masing-masing. Ada yang berkulit hitam, berkulit putih, berkulit coklat, berhidung mancung, berambut pirang, bermata sipit, dll. Semuanya adalah berasal dari nenek moyang yang sama yaitu dari pasangan Nabi Adam AS dan Siti Hawa. Oleh karena itu salah besar dan menyesatkan kalau kita percaya nenek moyang kita berasal dari monyet seperti yang diungkapkan dalam teori Charles Darwin. monyet ya monyet, manusia ya manusia. Gak bisa disamain ama monyet dong. Enak aja lho. Lho aja kali yang monyet yang percaya nenek moyang lho berasal dari monyet. Kami umat Islam percaya bahwa nenek moyang kami adalah berasal dari Nabi Adam AS dan Siti Hawa.
5. Siapa nabi yang bisa mengartikan mimpi ?
Beliau adalah Nabi Yusuf AS. Dan karena berhasil menafsirkan mimpi sang Raja, Akhirnya beliau diangkat menjadi menteri. Ini bisa dilihat dari doa Nabi yusuf
“Ya Tuhanku, sesungguhnya Engkau telah menganugerahkan kepadaku sebahagian kerajaan dan telah mengajarkan kepadaku sebahagian TA’BIR MIMPI. (Ya Tuhan) Pencipta langit dan bumi. Engkaulah Pelindungku di dunia dan di akhirat, wafatkanlah aku dalam keadaan Islam dan gabungkanlah aku dengan orang-orang yang saleh.” (Q.S Yusuf : 101)
6. Siapa nabi yangmemilliki suara merdu ?
Kalau yang ini adalah Nabi Daud AS, suara beliau ini sangat merdu sekali. Bahkan ketika beliau mengaji kitab Zabur, alam pun ikut terlena dengan kemerduan suaranya. Baik itu hewan, tumbuhan, batu, atau angin. Inilah salah satu mukzizat yang diberikan Allah SWT kepada Nabi Daud AS selain dianugerahkan kitab Zabur. Kayaknya penyanyi sekarang yang bersuara merdu belum ada apa-apanya deh kalau dibandingkan dengan merdunya suara Nabi Daud AS. Pengen punya suara merdu ga? ;)
7. Siapa nabi yang tangannya bisa bersinar / memancarakan cahaya ?
Kalau ini adalah Nabi Musa AS. Waktu itu beliau sedang menempuh perjalanan yang gelap gulita sehingga tidak tahu jalan karena begitu gelapnya. Allah pun menyuruh Nabi Musa AS untuk menaru tangannya ke badan. Setelah hal itu dilakukan, ternyata benar saja, tangan beliau langsung bersinar lakasana pelita sehingga beliaupun bisa tahu jalan karena sudah tidak gelap lagi karena menggunakan tanggannya sebagai penerangan. Masya Allah, hebat yah . Selain Nabi Musa, ada lagi nabi lain yang bisa memancarkan cahaya yakni siapa lagi kalau bukan Rosulullah SAW. Seluruh anggota badan beliau bercahaya karena aura kenabian Beliau. Namun cahayanya tentunya berbeda dengan cahaya yang dipancarkan tangan Nabi Musa AS. Jadi untuk jawaban no 7 ini tetep jwabannya adalah Nabi Musa AS karena yang ditanyakan kan Nabi yang Tangannya bisa bersinar. Sebenarnya masih ada mukjizat Nabi Musa lainnya, salah satunya yang sangat terkenal adalah bisa membelah lautan. Tentu saja semua ini atas kehendak dan kuasa Allah SWT.
8. Siapa nabi yang dari jemarinya bisa memancarkan air ?
Tidak Ragu lagi, ini adalah Mukzizat yang diberikan Allah SWT kepada Rosulullah SAW.
Banyak sekali Mukzizat yang diberikan kepada Rosulullah SAW. Salah satunya dari jemarinya bisa memancarkan air.
9. Siapa nabi yang berada di dalam perut ikan paus selama 3 hari tapi tidak mati ?
Kalau ini adalah Nabi Yunus AS. Beliau ini ceritanya kesal dengan kaumnya yang susah banget menerima dakwah beliau. Kalau bahasa gaulnya pala batu banget dan ngotot gak mau nerima kebenaran. Diajak kejalan kebaiakn malah marah-marah dan berontak. Siapa coba yang kesel digituin. Akhirnya beliau meninggalkan kaummnya dengan naik kapal laut untuk mencari medan dakwah yang lain. Namun Allah SWT menegur beliau. Bagaimanapun juga yang namanya berdakwah ke jalan kebenaran banyak tantangannya. Jadi harus dihadapi dan jangan menyerah. Singkat cerita Nabi Yunus AS pun diceburkan ke dalam laut oleh nahkoda kapal karena kapal mengalami gangguan dan perlu menceburkan korban sebagai tumbal. Setelah diundi, Nama Nabi Yunus yang selalu keluar, bahkan sampai tiga kali berturut-turut. Setalh diceburkan, Nabi Yunus pun dimakan ikan paus. Atas Izin Allah, beliau tidak mati. Di dalam perut ikan beliau menyesal atas kekeliruannya meninggalkan kaumnya. Beliaupun terus memohon ampun dan bertaubat. Hingga selam tiga hari akhirnya beliau dimuntahkan ke darat oleh ikan paus tersebut. Kalau bahasa gaulnya. Ikannya mabok nelen Nabi Yunus AS. Gak kebayang ikannya segede apa sampai Nabi Yunus bisa bertahan didalamnya.
10. Siapa nabi yang kemana-mana bepergian dengan angin ?
Jawabannya adalah Nabi Sulaiman AS
"Kemudian Kami tundukkan kepada angin yang berhembus dengan baik menurut kemana saja yang dikehendakinya, dan (Kami tundukkan pula kepadanya) setan-setan semuanya ahli bangunan dan penyelam, dan setan yang lain yang terikat dalam belenggu. Inilah anugerah Kami;, maka berikanlah (kepada orang lain) atau tahanlah (untuk dirimu sendiri) dengan tiada pertanggungan jawab. Dan sesungguhnya dia mempunyai kedudukan yang dekat pada sisi Kami dan tempat kembali yang baik." (QS. Shad: 36-40)
Nabi Sulaiman AS memutuskan untuk tidak menggunakan kuda karena gara-gara mengurus kuda, pada suatu hari dibuatnya lupa pada salat. Ketika Sulaiman meninggalkan kuda dalam rangka mencapai ridha Allah SWT, maka Dia menggantikannya dengan angin yang bertiup sesuai dengan perintahnya kemana pun ia pergi dan kemana pun tempat yang diinginkannya.
Maha Besar Allah yang menganugerahkan para Nabi dan Rasul-Nya berbagai Mukzizat. Ini sebagai bukti bahwa Allah Maha kuasa atas segala sesuatu agar bisa mengambil hikmah dan pelajaran didalamnya sehingga kita semakin beriman dan bertaqwa. Insya Allah.
Mohon maaf yah kurang lebihnya. MOHON DISHARE agar semakin banyak orang yang mendapat manfaatnya. (^_^)
Wallahu’alam

pertanyaan tentang nabi dan rasul

pertanyaan dan jawaban seputar nabi dan rasul

Pertanyaan :
Nabi dan rasul itu jumlahnya banyak, mengapa dalam pelajaran tauhid itu yang wajib diketahui hanya 25 nabi dan rasul, apa hujjah yang memperkuat dari pendapat yang di atas tersebut, dan dinisbahkan kepada ahlussunnah waljamaah.
Jawaban:
jumlah nabi dan rasul sangat banyak. Jumlahnya melebihi 25 orang. Dalam sebuah riwayat disebutkan bahwa jumlah nabi dan rasul mencapai 124 ribu orang. Dari jumlah itu, 300-an orang di antaranya adalah rasul.
Dalilnya adalah hadits berikut ini:
Dari Abi Dzar Al-Ghifari radhiyalllahu 'anhubahwa Rasulullah SAW bersabda ketika ditanya tentang jumlah para nabi, "(Jumlah para nabi itu) adalah seratus dua puluh empat ribu (124.000) nabi." Para shahabat bertanya lagi, "Lalu berapa jumlah rasul di antara mereka?" Beliau menjawab, "Tiga ratus dua belas(312) orang." (HR At-Turmuzy)
Selain menjelaskan tentang jumlah nabi, hadits juga menjelaskan bahwa nabi dan rasul itu berbeda. Dan jumlah rasul itu lebih sedikit dari nabi serta informasi bahwa dari sekian banyak nabi, hanya sebagian saja yang menjadi Rasul.
Lalu dari mana angka 25 orang nabi dan Rasul? Siapa yang mengarangnya? Apa dalilnya?
Nabi dan rasul yang jumlahnya 25 orang itu adalah mereka yang namanya secara eksplisit disebutkan di dalam Al-Quran dan disepakati kenabian atau kerasulannya. Jumlahnya ternyata hanya 25 orang saja.
Walaupun sebenarnya kisah tentang para nabi di dalam Al-Quran lebih dari 25 orang, namun terkadang meski kisahnya disebutkan, tetapi namanya tidak disebutkan dengan tegas. Salah satu contohnya adalah nabi Khidhir 'alaihissalam. Beliau punya kisah yang panjang di dalam Al-Quran, namun tidak ada satu pun ayat Quran yang menyebutkan namanya.
Selain itu juga ada tokoh yang namanya disebutkan secara tegas, namun para ulama berbeda pendapat tentang status kenabiannya. Misalnya, Lukman Al-Hakim. Bahkan surat ke-31 dinamakan dengan nama dirinya. Tetapi status kenabiannya menjadi titik silang pendapat di kalangan ulama. Walhasil, beliau tidak tercantum dalam daftar nabi dan rasul yang jumlahnya 25 orang itu.
Jumlah Penyebutan Nama Nabi dalam Quran
Kalau kita hitung jumlah nama nabi yang disebutkan dalam Al-Quran dan berapa kali penyebutannya, maka kita akan mendapat angka statistik di bawah ini. Daftar ini diurutkan sesuai dengan nama yang penyebutannya paling banyak diulang-ulang.
1. Nabi Musa 136 kali
2. Nabi Ibrahim 69 kali
3. Nabi Nuh 43 kali
4. Nabi Yusuf 27 kali
5. Nabi Luth 27 kali
6. Nabi Isa 25 kali
7. Nabi Adam 25 kali
8. Nabi Harun 20 kali
9. Nabi Ishaq 17 kali
10. Nabi Sulaiman 17 kali
11. Nabi Ya'qub 16 kali
12. Nabi Daud 16 kali
13. Nabi Ismail 12 kali
14. Nabi Syu'aib 11 kali
15. Nabi Shalih 9 kali
16. Nabi Zakaria 7 kali
17. Nabi Yahya 5 kali
18. Nabi Muhammad SAW 4 kali
19. Nabi Hud 4 kali
20. Nabi Ayyub 4 kali
21. Nabi Yunus 4 kali
22. Nabi Ilyasa' 2 kali
23. Nabi Dzulkifl 2 kali
24. Nabi Ilyas 2 kali
25. Nabi Idris 2 kali
Tentunya menghafal nama nabi dan rasul bukan termasuk unsur aqidah yang menentukan apakah seseorang menjadi muslim atau bukan. Yang menjadi inti aqidah dalam masalah kenabian adalah kita mengakui bahwa Allah SWT telah memilih manusia biasa untuk menjadi nabi dan rasul, dengan menerima wahyu dari langit, membawa syariat dan ajaran untuk diterapkan dalam kehidupan manusia.
Dan yang terpenting, manusia diwajibkan untuk menjadikan para nabi dan rasul sebagai sumber rujukan dalam masalah agama, serta menjadikan sosok para nabi dan rasul itu sebagai teladan dalam kehidupan.
Dan tentu saja, para nabi itu harus diyakini bahwa semua merupakan utusan Allah SWT kepada ummatnya masing-masing, sedangkan untuk zaman kita sekarang ini, ajaran nabi yang masih berlaku hanyalah ajaran yang dibawa oleh nabi Muhammad SAW.
 Pertanyaan:
Hukum Menjual Rokok Halal Atau Haram....?
Jawaban:
sekelompok ulama telah mengharamkan rokok di antaranya adalah Syaikh asy-syihab al-Qalyubi – ia meletakkan rokok pada bab najis dalam hasyiyah-nya atas kitab karangan al-Jalal al-Mahali yang mengomentari kitab al-mihaj-nya Imam Nawawi: setiap benda cair yang memabukkan – seperti arak dan sejenisnya – adalah najis – dia berkata lagi bahwa rokok adalah punya sifat candu dan salah satu efeknya adalah membuka saluran tubuh sehingga mempermudah masuknya penyakit berbahaya ke dalam tubuh, oleh karena itu merokok kerap kali menimbulkan lesu dan sesak nafas ataupun gejala lain yang sejenis.
Sedangkan al-Muhaqqiq al-Bujairimi pada pasal tentang makanan dalam hasyiyahnya atas kitab al-iqna fi syarh matn abi syuja – dia berkata: mengkomsumsi sesuatu yang dapat membahayakan badan atau pikiran hukumnya adalah haram, kaidah ini berkonsekuinsi pada diharmkannya rokok. Masih banyak juga kitab-kitab karya ulama yang mengharamkan rokok, namun dalam hal ini tidaklah mungkin kami tuturkan satu persatu.
Qalyubi (Ulama mazhab Syafi’I wafat: 1069 H) ia berkata dalam kitab Hasyiyah Qalyubi ala Syarh Al Mahalli, jilid I, hal. 69, “Ganja dan segala obat bius yang menghilangkan akal, zatnya suci sekalipun haram untuk dikonsumsi. Oleh karena itu para Syaikh kami berpendapat bahwa rokok hukumnya juga haram, karena rokok dapat membuka jalan agar tubuh terjangkit berbagai penyakit berbahaya“.
Di antara alasan haramnya rokok adalah dalil-dalil berikut ini.
Allah Ta’ala berfirman,
وَلَا تُلْقُوا بِأَيْدِيكُمْ إِلَى التَّهْلُكَةِ
“Dan janganlah kamu menjatuhkan dirimu sendiri ke dalam kebinasaan“. (QS. Al Baqarah: 195). Karena merokok dapat menjerumuskan dalam kebinasaan, yaitu merusak seluruh sistem tubuh (menimbulkan penyakit kanker, penyakit pernafasan, penyakit jantung, penyakit pencernaan, berefek buruk bagi janin, dan merusak sistem reproduksi), dari alasan ini sangat jelas rokok terlarang atau haram.
Rasul shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
لا ضَرَرَ ولا ضِرارَ
“Tidak boleh memulai memberi dampak buruk (mudhorot) pada orang lain, begitu pula membalasnya.” (HR. Ibnu Majah no. 2340, Ad Daruquthni 3/77, Al Baihaqi 6/69, Al Hakim 2/66. Kata Syaikh Al Albani hadits ini shahih). Dalam hadits ini dengan jelas terlarang memberi mudhorot pada orang lain dan rokok termasuk dalam larangan ini.
Perlu diketahui bahwa merokok pernah dilarang oleh Khalifah Utsmani pada abad ke-12 Hijriyah dan orang yang merokok dikenakan sanksi, serta rokok yang beredar disita pemerintah, lalu dimusnahkan. Para ulama mengharamkan merokok berdasarkan kesepakatan para dokter di masa itu yang menyatakan bahwa rokok sangat berbahaya terhadap kesehatan tubuh. Ia dapat merusak jantung, penyebab batuk kronis, mempersempit aliran darah yang menyebabkan tidak lancarnya darah dan berakhir dengan kematian mendadak

Pertanyaan:
Bagaimana Membedakan Antara Perbedaan Mazhab dengan Aliran Sesat?
Jawaban
Majelis Ulama Indonesia (MUI) telah mengeluarkan 10 kriteria aliran sesat. Apabila ada satu ajaran yang terindikasi punya salah satu dari kesepuluh kriterai itu, bisa dijadikan dasar untuk masuk ke dalam kelompok aliran sesat
  1. Mengingkari rukun iman dan rukun Islam
  2. Meyakini dan atau mengikuti akidah yang tidak sesuai dalil syar`i (Alquran dan as-sunah),
  3. Meyakini turunnya wahyu setelah Alquran
  4. Mengingkari otentisitas dan atau kebenaran isi Alquran
  5. Melakukan penafsiran Alquran yang tidak berdasarkan kaidah tafsir
  6. Mengingkari kedudukan hadis Nabi sebagai sumber ajaran Islam
  7. Melecehkan dan atau merendahkan para nabi dan rasul
  8. Mengingkari Nabi Muhammad SAW sebagai nabi dan rasul terakhir
  9. Mengubah pokok-pokok ibadah yang telah ditetapkan syariah
  10. Mengkafirkan sesama Muslim tanpa dalil syar’i
Memang 10 kriteria ini belum dijabarkan secara lebih detail, mungkin butuh waktu. Tetapi setidaknya kriteria ini sudah cukup membantu pada level yang paling dasar.
Pertanyaan:
bagaimana hukum menembok kuburan sebagaimana foto dalam laporan Pak Ustadz ke Istambul, yaitu
makam salah satu sahabat Rasulullah, SAW?
Bukankah Rasulullah melarang untuk melakukan hal tersebut. Juga kaitannya dengan jamaah haji yang
senantiasa menziarahi makam Rasulullah SAW, tidakkah makam Beliau dibeton? Dan tidak pulakah
makam Beliau itu di dalam Masjid Nabawi?
Jawaban:
Kalau kita perhatikan, memang kebanyakan makam para tokoh memang ditembok tinggi. Masjid Al- Imam Asy-Syafi'i di Mesir pun demikian juga. Yang kami lihat sebenarnya bukan makamnya yang ditembok atau didirikan bangunan. Tetapi yang ditembok adalah pagarnya. Makamnya sendiri malah tidak kelihatan, meski kami berusaha mengintipnya. Lagian, kan cuma makam, sama sekali tidak ada nilai ibadah ritualnya. Kalau pun ada nilainya, lebih kepada nilai sejarah dari perjuangan beliau. Dan rasanya, kami tidak melihat saat itu orang-orang datang ke kuburan Abu Ayyub Al-Anshari seperti yang umumnya kita lihat di makam-makam di negeri kita. Tidak ada orang datang minta barakah, atau bawa air untuk dibaca-baca, tidak ada orang minta jodoh, minta naik pangkat dan jabatan, minta anak atau minta jadi bupati.
Entah kalau di lain waktu ada yang berpraktek seperti itu, tapi yang kami lihat saat menjelang shalat Maghrib hari itu, tidak ada satu pun yang melakukannya. Orang-orang hanya datang dan melihat-lihat saja, selebihnya mereka shalat di masjid di sebelah makam itu.
Kalau kita kembalikan kepada bentuk idealnya, sebenarnya yang paling ideal adalah seperti kubur para shahabat nabi di Makkah atau di Madinah. Semua makam jadi satu, tanpa nisan, tanpa tanda apapun.
Yang ada cuma gundukan pasir dan tanah saja. Kita tidak tahu, makam siapa saja yang ada di pekuburan Baqi' Madinah dan pekuburan Ma'la di Makkah.
Itu yang paling ideal, sebagai bentuk implementasi dari hadits-hadits yang tidak membolehkan adanya bangunan di atas kuburan. Namun agak berbeda dengan makam Rasulullah SAW, Abu Bakar dan
Umar. Ketiganya dimakamkan di satu tempat, yaitu di rumah nabi Muhammad SAW, tepatnya di dalam kamar.
Dan kamar itu kini posisinya sudah berada di dalam masjid Nabawi Madinah. Padahal, dahulu rumah Nabi bukan di dalam masjid, tetapi di luar masjid. Namun seiring dengan perkembangan masjid dari waktu ke waktu, masjid semakin melebar ke samping kanan, belakang dan samping kiri, yaitu tepat di posisi rumah nabi SAW. Maka jadilah rumah nabi yang di dalamnya ada kuburan beliau dan kedua shahabatnya menjadi bagian dari masjid Nabawi. Untuk itu, maka kuburan mereka diberi pagar pembatas, sehingga orang tidak shalat menghadap ke kuburan. Dengan adanya pembatas itu, maka orang-orang yang shalat tepat di
belakang makam tidak lagi dianggap sebagai orang yang shalat menghadap kuburan.
Jadi sebenarnya tidak benar kalau dikatakan bahwa makam nabi Muhammad SAW dibangun di atasnya bangunan. Yang benar adalah makam itu diberi pagar pembatas yang jelas fungsinya. 

sumber facebook: kumpulan hadis shahih dan sunnah nabi muhammad saw 

contoh pertanyaan tentang mukjizat

Pertanyaan: Dari sisi apa Al-Qur’an itu mukjizat? Dan bukti apa saja yang bisa diajukan untuk itu?


Jawaban:

Al-Qur’an dari berbagai sisi adalah mukjizat yang kekal dan hidup. Kapan saja dan siapa saja tidak akan sanggup membuat tandingannya. Itulah kenapa Al-Qur’an menantang semua orang yang berilmu dan tokoh untuk membuat tandingannya. Adapun sisi-sisi kemukjizatan Al-Qur’an, di antaranya adalah sebagai berikut:

1. Mukjizat dari sisi kesusasteraan dan musik

Al-Qur’an, dari sisi sasteranya, membuat tokoh-tokoh sastrawan arab terpana, bahkan musuh paling bebuyutan Rasulullah Muhammad saw. –seperti Walid- mengakui metode Al-Qur’an yang indah, susunan yang menawan, dan irama yang tak tertandingi, dan mereka menyebut tutur kata Al-Qur’an sebagai penyihir.
Profesor Dorman, dari Amerika menuliskan, “Al-Qur’an, kata perkatanya diwahyukan oleh Jibril kepada Nabi Muhammad saw., tiap-tiap kata Al-Qur’an adalah lengkap dan sempurna. Al-Qur’an adalah mukjizat yang kekal dan merupakan bukti atas kejujuran sekaligus kebenaran klaim Rasulullah Muhammad saw. Sebagian dari sisi kemukjizatan Al-Qur’an terkait dengan gaya bahasa esai dan sasteranya yang betul-betul sempurna, agung dan mulia, sehingga baik manusia maupun dewa tidak sanggup membuat tandingan bahkan untuk satu surat saja darinya.” [1]
Profesor A. Guallavome mengatakan, “Al-Qur’an dengan irama spesialnya memiliki musik yang merdu dan menyenangkan bagi setiap telinga yang mendengarnya. Betapa banyak orang kristen arab yang memuji gaya bahasa sastera Al-Qur’an. Para orientalis yang menguasai bahasa dan sastera arab pun memuji kefasihan, kelembutan dan kehalusan gaya Al-Qur’an. Ketika Al-Qur’an dibacakan, daya tariknya yang khas mau tidak mau menarik hati setiap pendengar kepada dirinya, manis serta musik merdu inilah yang meredam suara-suara sumbang yang mencelanya dan meniupkan ruh kepada bingkai syariat Nabi Muhammad saw. serta membuatnya tidak bisa dijiplak. Pada kancah esai, prosa dan sastera arab yang luas, kita tidak menemukan kitab yang menyetarai kefasihan, keelokan dan bobot Al-Qur’an, bahkan tidak ada satu karya pun yang layak untuk dibandingkan dengannya. Pengaruh kuat ayat-ayat Al-Qur’an, baik terhadap orang arab maupun non-arab membuat mereka kehilangan kendali.” [2]
Theodor Noldeke, orientalis jerman, di dalam kitabnya Geschichte Des Quran (Sejarah Al-Qur’an) menuliskan, “Begitu indah dan tertatanya tutur kata Al-Qur’an sehingga siapa saja yang mendengarkannya dengan segenap kesesuaian dan kelancaran yang terdapat di dalamnya seolah-olah dia sedang mendengarkan nyanyian para dewa; dia membuat orang-orang mukmin jadi menyala-nyala dan memenuhi hati mereka dengan semangat serta kegemberiaan.” [3]
B. Saint Hilaire, orientalis prancis juga di dalam kitab Mohomet et Le Quran menuliskan, “Al-Qur’an adalah kitab yang tidak tertandingi, keindahan literalnya sebanding dengan keagungan maknanya. Kekuatan kata-kata, keserasian kalimat, dan kesegaran ide tampak jelas di dalam gaya yang baru muncul ini, yaitu gaya baru yang sebelum akal takluk di hadapan maknanya hati terlebih dulu pasrah padanya. Di antara para nabi, tidak ada satu pun yang seperti beliau, mempunyai tutur kata yang betul-betul berpengaruh seperti ini.
Dengan gayanya yang khas, Al-Qur’an di samping nyanyian religius dia juga merupakan panjatan doa Ilahi; syariat dan undang-undang politik serta hukum sekaligus penyampai berita gembira dan ancaman; penasihat sekaligus penunjuk jalan yang lurus; begitu pula pembawa cerita, hikmah, perumpamaan ... dan pada akhirnya Al-Qur’an adalah karya terindah berbahasa arab yang tidak ada tandingannya di tengah kitab-kitab suci agama-agama yang lain. Menurut pengakuan orang-orang kristen arab sendiri, kitab ini mempunyai pengaruh yang luar biasa dalam hati dan nyawa siapa saja yang mendengarkannya.” [4]
Dimensi lain dari kemukjizatan Al-Qur’an dan keindahannya adalah keteraturan, geometri dan keelokan kalimatnya; dia manyampaikan makna yang paling banyak dengan jumlah kata yang paling sedikit, dia menghindari penggunaan kata yang berlebihan, tapi pada saat yang sama dia mampu menyampaikan maksudnya secara sempurna dan jelas. Keagungan dimensi mukjizat Al-Qur’an ini begitu nyata sehingga apabila anda buang satu kalimat darinya, maka anda tidak akan mampu mencarikan kalimat ganti yang semakna dengannya dan jangan sampai maksud, irama dan bobot ayat tersebut keluar dari puncak kemukjiazatannya!!”
Dimensi lain dari kemukjizatan retorikal Al-Qur’an adalah pelukisan dan penggambarannya. Menurut sebagian ulama, seperti Sayid Qutub, Al-Qur’an telah menyuguhkan gambaran-gambaran yang indah, mempesona dan hidup tentang berbagai wujud di alam semesta, betapa banyak pentas yang dilukiskan oleh Al-Qur’an di hadapan seseorang sehingga dengan cara itu dia berhasil membenamkan maksudnya ke dalam relung hati yang paling dalam. Contohnya, ulama yang kotor dan bejat digambarkannya dengan anjing yang menjulurkan lidah keluar, permulaan pagi dengan pernapasan, orang alim yang tidak mengamalkan ilmunya dengan keledai yang memikul tumpukan kitab, dan lain-lain sebagainya.

2. Kemukjizatan dari sisi ilmu pengetahuan

Rahasia-rahasia ilmiah yang terkandung dalam Al-Qur’an adalah samudera tak bertepi berupa ilmu-ilmu tentang alam, manusia, sejarah, bintang dan lain sebagainya yang semua itu mendorong para ilmuan timur dan barat untuk melakukan penelitian yang luas dan membuat mereka betul-betul heran.
Berikut ini kami hanya akan menyebutkan beberapa contoh ayat dan tema-tema ilmiah yang disinggung olehnya:
1- Komposisi tumbuh-tumbuhan yang khas (QS. Al-Hijr/ 15: 19);
2- Pembuahan atau penghamilan tumbuh-tumbuhan (QS. Al-Hijr/ 15: 22);
3- Hukum pasang-pasangan dan perluasannya sampai ke dunia tumbuh-tumbuhan (QS. Al-Ra’du/ 13: 3);
4- Gerakan di tempat dan berpindah bumi (QS. Taha/ 20: 53);
5- Adanya benua-benua lain selain benua-benua yang dikenal saat itu (QS. Al-Rahman/ 55: 17);
6- Dasar bumi itu bundar (QS. Al-Ma’arij/ 70: 40);
7- Hubungan antara fenomena-fenomena cuaca (QS. Al-Baqarah/ 2: 164; Al-Jatsiyah/ 45: 5).
Namun demikian, mengingat bahwa Al-Qur’an adalah kitab pembina manusia dan pemberi hidayah, maka hanya dalam beberapa hal tertentu dia dapat menyinggung persoalan-persoalan ilmiah. Isyarat-isyarat parsial ini sendiri menjadi sumber inspirasi bagi para ilmuan. Di samping itu, Al-Qur’an juga selalu mengajak manusia untuk mengembara di muka bumi sambil mempelajari fenomena-fenomena alam, dan menurut sebagian karya tafsir Al-Qur’an juga telah memberitahukan kita akan kemungkinan manusia pergi ke planet-planet yang lain.
Dalam hal ini, banyak sekali buku dan artikel dari para ilmuan di berbagai bidang ilmu pengetahuan, dan masing-masing dari itu membicarakan keagungan Al-Qur’an serta kesesuaian ayat-ayatnya dengan hasil-hasil terbaru sains. [5] Mourice Bucaille di dalam karyanya The Bible, The Qur'an and Science mengatakan, “Bagaimana mungkin seseorang tidak heran dan mengaggap Al-Qur’an itu mukjizat ketika dia menyaksikan kesesuainnya dengan hasil-hasil terbaru ilmu pengetahuan manusia.” [6]
Dia, di sela-sela pembandingannya antara ajaran-ajaran ilmiah Al-Qur’an dengan kontradiksi-kontradiksi yang terdapat dalam Perjanjian Lama dan Perjanjian Baru serta ilmu pengetahuan yang populer pada masa turunnya Al-Qur’an, mengatakan, “Mengingat maklumat-maklumat yang ada pada era Muhammad saw., tidak mungkin mayoritas isi Al-Qur’an –yang berdimensi sains- digolongkan sebagai hasil karya manusiawi. Atas dasar itu, sungguh benar bahwa bukan saja Al-Qur’an patut untuk diterima sebagai wahyu, melainkan karena jaminan autentisitas yang dia berikan, maka Al-Qur’an patut sekali untuk didudukkan pada posisi yang istimewa dibanding yang lain.” [7]

3. Kemukjizatan dalam meramalkan hal yang akan terjadi.

Al-Qur’an telah memberitahukan kejadian-kejadian yang akan datang. Berita-berita ini ada yang berhubungan dengan Al-Qur’an itu sendiri dan ada pula yang berhubungan dengan kejadian-kejadian di luar. Sebagiannya tentang kejadian-kejadian pada periode tertentu dalam sejarah, adapun sebagiannya lagi bersifat sinambung. Sebagiannya telah terjadi dan secara historis telah membuktikan kebenaran Al-Qur’an, adapun sebagiannya yang lain masih berhubungan dengan masa depan umat manusia, seperti kepemimpinan orang-orang yang saleh, berdirinya pemerintahan global yang adil dan bertauhid, serta pembentukan madinah islami yang ideal.
Dorman menuliskan, “Bagian yang berikutnya dari kemukjizatan Al-Qur’an berhubungan dengan ramalan-ramalan yang terkandung di dalamnya, sungguh menakjubkan bahwa ramalan-ramalan itu mempunyai data-data akurat yang tidak mungkin dapat dikumpulkan oleh lelaki tak terpelajar seperti Muhammad saw.” [8]
Berikut ini kami hanya akan menyebutkan beberapa contohnya secara ringkas:

1 – 3. Keterpeliharaan Al-Qur’an.

Al-Qur’an secara tegas mengumumkan bahwa tangan-tangan kotor yang bermaksud untuk mengubah dan mengotak-atiknya tidak akan pernah berhasil –beda halnya dengan kitab-kitab samawi lain yang sebelumnya-, karena pemeliharan khusus Ilahi dan inayah-Nya senantiasa menjamin kesucian Al-Qur’an, Dia berfirman:
إِنَّا نَحْنُ نَزَّلْنَا الذِّكْرَ وَإِنَّا لَهُ لَحَافِظُونَ (الحجر/ 15: 9)

Artinya: “Sesungguhnya Kami yang menurunkan Al-Qur’an dan sesungguhnya Kami memeliharanya.” (QS. Al-Hijr/ 15: 9);

وَإِنَّهُ لَكِتَابٌ عَزِيزٌ لَا يَأْتِيهِ الْبَاطِلُ مِن بَيْنِ يَدَيْهِ وَلَا مِنْ خَلْفِهِ تَنزِيلٌ مِّنْ حَكِيمٍ حَمِيدٍ (فصلت/ 41: 41 – 42)

Artinya: “Sesungguhnya itu adalah kitab yang mulia. Yang tidak didatangi kebatilan dari hadapannya dan tidak –pula- dari belakangnya, yang diturunkan dari yang Maha Bijaksana lagi Maha Terpuji.” (QS. Fushilat/ 41: 41 – 42.)
Dakwaan Al-Qur’an ini sudah teruji selama lebih dari lima belas abad, dan pengalaman ini menunjukkan bagaimana usaha para musuh dalam hal ini gagal dan keinginan untuk menambahkan satu kata saja kepada Al-Qur’an atau mengurangi satu kata saja darinya masih tetap tertahan dalam hati mereka, mereka juga putus asa di masa yang akan datang dapat melakukan perubahan seperti itu terhadap Al-Qur’an.

2 – 3. Tantangan Al-Qur’an.

Berkali-kali dan dengan berbagai bentuk Al-Qur’an menantang manusia untuk membuat tandingan Al-Qur’an seraya mendakwakan secara tegas bahwa seandainya semua orang saling bahu membahu untuk melakukan hal itu, niscaya mereka tidak akan mampu membuat tandingan tersebut:

قُل لَّئِنِ اجْتَمَعَتِ الإِنسُ وَالْجِنُّ عَلَى أَن يَأْتُواْ بِمِثْلِ هَذَا الْقُرْآنِ لاَ يَأْتُونَ بِمِثْلِهِ وَلَوْ كَانَ بَعْضُهُمْ لِبَعْضٍ ظَهِيرًا (الإسراء/ 17: 88)

Artinya: “Katakanlah, kalau sekiranya berkumpul manusia dan jin untuk mendatangkan yang serupa dengan Al-Qur’an, mereka tidak akan sanggup mendatangkan yang serupa dengannya walaupun sebagian mereka dengan sebagian yang lain tolong-menolong.” (QS. Al-Isra’/ 17: 88)
Bahkan Al-Qur’an melangkah lebih jauh daripada itu dan menantang mereka untuk membuat satu surat saja yang setara dengan Al-Qur’an seraya menegaskan bahwa mereka tidak akan mampu untuk menjawab tantangan itu:

وَإِن كُنتُمْ فِي رَيْبٍ مِّمَّا نَزَّلْنَا عَلَى عَبْدِنَا فَأْتُواْ بِسُورَةٍ مِّن مِّثْلِهِ وَادْعُواْ شُهَدَاءكُم مِّن دُونِ اللّهِ إِنْ كُنْتُمْ صَادِقِينَ فَإِن لَّمْ تَفْعَلُواْ وَلَن تَفْعَلُواْ فَاتَّقُواْ النَّارَ الَّتِي وَقُودُهَا النَّاسُ وَالْحِجَارَةُ أُعِدَّتْ لِلْكَافِرِينَ (البقرة/ 2: 23 – 24)

Artinya: “Dan jika kalian –tetap- dalam keraguan terhadap apa yang Kami turunkan –Al-Qur’an- kepada hamba Kami –Muhammad-, maka datangkanlah suatu surat –saja- yang semisalnya, dan ajaklah pembantu-pembantu kalian selain dari Allah, jika kalian memang orang-orang yang benar. Maka jika kalian tidak dapat membuat-nya dan pasti kalianu tidak akan dapat membuatnya, maka peliharalah diri kalian dari neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu, yang disediakan untuk orang-orang kafir.” (QS. Al-Baqarah/ 2: 23 – 24.)
Ramalan Al-Qur’an ini telah teruji selama lima abad, semua usaha dalam rangka membuat tandingan untuk satu surat saja dari Al-Qur’an –bahkan surat pendek seperti Al-Kautsar yang hanya terdiri dari tiga baris- gagal dan siapa saja yang menginjakkan kaki di kancah ini tidak memperoleh apa-apa kecuali mereka sendiri yang tercemar dan dipermalukan. [9]

3 – 3. Fenomena-fenomena sejarah.

Al-Qur’an telah memberitakan kejadian-kejadian yang akan datang pada saat perhitungan biasa tidak mampu untuk meramalkannya, lalu kenyataan sejarah juga terjadi sesuai dengan apa yang diberitakan oleh Al-Qur’an sebelumnya. Di antara contoh-contohnya adalah:
1 – 3 – 3. Kemenangan Islam atas orang-orang musyrik Mekkah dan kedatangan orang-orang muslim ke rumah Tuhan –Masjidil Haram- dengan aman sentosa:
لَتَدْخُلُنَّ الْمَسْجِدَ الْحَرَامَ إِن شَاء اللَّهُ آمِنِينَ مُحَلِّقِينَ رُؤُوسَكُمْ وَمُقَصِّرِينَ لَا تَخَافُونَ (الفتح/ 48: 27)

Artinya: “Sungguh kalian akan memasuki Masjidil Haram jika Allah menghendaki dalam keadaan aman, mencukur kepala dan menggunting rambut, kalian tidak merasa ketakutan.” (QS. Al-Fath/ 48: 27)
Tidak lama setelah ayat ini turun, terjadilah Perdamaian –atau kemenangan- Hudaibiyah yang mempersiapkan kedatangan muslimin ke rumah Tuhan secara terhormat, dan setelah itu Islam menang total atas kesyirikan dan kekafiran, sehingga Masjidul Haram diubah kembali menjadi pusat pengesaan Tuhan atau tauhid.
2 – 3 – 3. Tidak lama setelah kemenangan imperatur Iran atas bangsa Romawi, bangsa Romawi menang atas bangsa Iran, dan orang-orang mukmin gembira menyaksikan kemenangan itu:

غُلِبَتِ الرُّومُ فِي أَدْنَى الْأَرْضِ وَهُم مِّن بَعْدِ غَلَبِهِمْ سَيَغْلِبُونَ فِي بِضْعِ سِنِينَ لِلَّهِ الْأَمْرُ مِن قَبْلُ وَمِن بَعْدُ وَيَوْمَئِذٍ يَفْرَحُ الْمُؤْمِنُونَ (الروم/ 30: 2 – 4)

Artinya: “Bangsa Romawi telah dikalahkan pada negeri terdekat –sekitar Syam atau Aljazirah [10]-, dan sesudah kekalahan mereka, mereka akan menang dalam beberapa tahun –yang singkat, antara tiga sampai tujuh tahun-. Dan hanya bagi Allah urusan itu sebelumnya dan sesudahnya, dan pada hari itu bergembiralah orang-orang mukmin.” (QS. Al-Ruum/ 30: 2 – 4.)
Ramalan ini disampaikan oleh Al-Qur’an pada waktu muslimin menang di perang Badar, sehingga kegembiraan mereka pun menjadi berlipat ganda. [11]

4. Kemukjizatan dari sisi orang yang menyampaikan.

Salah satu sisi kemukjizatan Al-Qur’an adalah orang yang menyampaikannya. Al-Qur’an sendiri menekankan sisi kemukjizatan ini:

وَمَا كُنتَ تَتْلُو مِن قَبْلِهِ مِن كِتَابٍ وَلَا تَخُطُّهُ بِيَمِينِكَ إِذًا لَّارْتَابَ الْمُبْطِلُونَ (العنکبوت/ 29: 48)

Artinya: “Dan engkau –Muhammad- tidak pernah membaca kitab sebelumnya dan engkau tidak pernah menulisnya dengan tangan kananmu. Jikalau demikian niscaya makin ragu-ragulah orang-orang yang membatalkan itu.” (QS. Al-Ankabut/ 29: 48.)
Kawasan Arab, jika dibandingkan dengan kawasan-kawasan sekitarnya –seperti Rom, Mesir, Iran- maka terhitung kawasan yang berperadaban paling rendah, bahkan budaya asli mereka adalah “ummi”; buta huruf atau buta kitab, dan puncak pengetahuan mereka berdasarkan pada data-data yang sampai melalui hati ke hati yang berikutnya; kepercayaan, tradisi dan sepak terjang mereka pun terbentuk dalam kerangka itu. Oleh karenanya, penyampaian kitab seagung Al-Qur’an –yang menundukkan semua peradaban dan orang-orang berilmu, baik pada waktu itu maupun pada masa yang akan datang- adalah tanda bahwa kitab tersebut bersifat Ilahi dan bukan manusiawi; yakni dibuat oleh Tuhan dan bukan oleh manusia.
Apalagi penyampai Al-Qur’an di tengah masyarakat arab yang terbatas kala itu adalah orang yang tidak terpelajar. Coba anda bayangkan satu contoh ini saja, di salah satu suku terpencil Afrika, tiba-tiba ada orang –yang tidak pernah belajar matetika dan fisika serta tidak pernah bersentuhan dengan buku-buku ilmiah yang lain- yang menulis buku tentang enerji nuklir atau kloning, sementara para ilmuan spesialis di bidang itu tidak mampu menulis buku yang serupa, padahal mereka mempunyai pusat-pusat penelitian yang berfasilitas tinggi!!

5. Kemukjizatan Al-Qur’an dari sisi tidak ada perselisihan di dalamnya.

Sisi lain dari kemukjizatan Al-Qur’an adalah kenyataan bahwa tidak ada perselisihan dan kontradiksi antara hal-hal yang diutarakannya. Al-Qur’an sendiri telah menekankan sisi kemukjizatannya ini:

أَفَلاَ يَتَدَبَّرُونَ الْقُرْآنَ وَلَوْ كَانَ مِنْ عِندِ غَيْرِ اللّهِ لَوَجَدُواْ فِيهِ اخْتِلاَفًا كَثِيرًا (النساء/ 4: 82)

Artinya: “Apakah mereka tidak mendalami Al-Qur’an, kalau sekiranya itu bukan dari sisi Allah, tentulah mereka dapati banyak pertentangan di dalamnya.” (QS. Al-Nisa’/ 4: 82.)
Kita tahu bahwa Al-Qur’an disampaikan oleh Rasulullah saw. selama dua puluh tiga tahun, itu pun dalam kondisi beliau menyaksikan kekuatan musuh, kelemahan orang-orang mukmin, hijrah, boikot, perang, takut dan harapan, kemenangan dan kekalahan serta lain-lain sebagainya. Dalam kurun waktu itu, hal-hal yang sekilas tampak kocar-kacir dan tidak berhubungan satu sama yang lain telah disampaikan oleh beliau di berbagai kesempatan yang berbeda-beda. Sudah barang tentu apabila hal-hal yang beliau sampaikan itu (Al-Qur’an) berdimensi manusiawi –yakni, buatan manusia- maka minimal kita akan menyaksikan dua fenomena di sana:
a. Proses kesempurnaan teks; artinya, gaya bertutur dan bicaranya secara gradual menyempurna dan berkembang, kata-kata dan istilah serta susunan-susunan kalimatnya menjadi lebih sempurna dari sebelumnya!
b. Proses kesempurnaan isi; artinya, maklumat, moral, dan hukumnya menjalani proses kesempurnaan. Maklumat-maklumat yang pertama tentu lebih rendah dan tidak mendalam bahkan mungkin salah jika dibandingkan dengan yang setelahnya, dan semakin ke depan maka undang-undang yang sebelumnya jadi lebih sempurna dan tampil dengan wajah yang berbeda dari sebelumnya. Penulisan kitab dengan segenap tema-temanya yang luas dari sisi orang yang hidup di tengah berbagai kejadian dan keributan, pasti secara bertahap kita akan menyaksikan adanya perbedaan-perbedaan secara psikologis, daya analisis, dan ketepatan isinya. Sedangkan di dalam Al-Qur’an sama sekali tidak ada kekurangan atau kejanggalan seperti itu.

6. Lezatnya pengulangan Al-Qur’an.

Sisi berikutnya dari kemukjizatan Al-Qur’an adalah manisnya Al-Qur’an itu sendiri. Yakni, betapa pun dia diulang-ulang, tetap saja manis itu tidak mungkin berkurang. Surat Al-Fatihah setiap hari kita baca berulang-kali –minimal sepuluh kali dalam ritual shalat-. Potongan indah apapun kalau kita ulang sepuluh kali maka akan menjenuhkan bagi kita; namun hanya Al-Qur’anlah yang betapa pun kita ulang-ulang tetap saja manisnya tidak kurang dan tidak akan menjenuhkan. Hal ini menunjukkan ada semacam keharmonisan antara ruh atau fitrah manusia dengan firman Ilahi ini, dan bahwasanya manusia ketika mendengar firman Penciptanya maka dia sedang mendengar seruan gaib dan supranatural.
Atas dasar itu, terbuktilah bahwa Al-Qur’an berada di atas kemampuan manusia, bahkan manusia yang istimewa seperti Rasulullah Muhammad saw.
Masih ada lagi sisi-sisi lain dari kemukjizatan Al-Qur’an yang disebutkan olah para ulama; seperti kemukjizatan dari sisi ajarannya, perundang-undangannya dan lain-lain. Untuk lebih jelasnnya anda dapat merujuk pada referensi di bawah. [12]